Password

Annyeong hasimnikka~

Maaf, karena pada akhirnya saya membuat postingan seperti ini. Saya sendiri sudah memikirkan hal ini, dan akhirnya saya putuskan… hanya untuk beberapa FF saya Protect.

Jika ingin mendapatkan Password, tidak ada cara khusus. cukup dengan menghubungi saya, maka saya akan berusaha secepat mungkin membalas.

SMS / Whatapps : 081373911745

BBM : —

Facebook : Nurma Nasuha (Suha Camui)

Silahkan hubungi akun mana yang memudahkan kalian. Jangan merasa sungkan ya ūüôā

 

Terima kasih untuk kalian yang hingga detik ini sudah memberi saya semangat.

Terima kasih… ^^ #bow

*

‚ÄúMenulis adalah suatu cara untuk bicara, menyapa dan untuk menyentuh seseorang entah di mana.‚ÄĚ ‚Äē Seno Gumira Ajidarma

*

[WonKyu] Something Called Love

Ini hanya cerita tentang dua pemuda dengan kekurangan yang melebur dalam rajut kisah. Cerita yang pastinya akan sangat klise dengan peradegan ala roman picisan yang telah sering kali dikisahkan oleh begitu banyak pencerita di luar sana.

 

Ini hanya salah satu dari sekian banyaknya kisah klasik tentang cinta yang apa adanya. Diawali salju yang perlahan meleleh di awal Februari, kemudian disusul oleh tumbuhnya tunas-tunas baru yang siap dewasa dan lantas mekar ketika masuk dimusimnya. Bunga plum yang perlahan gugur menjadi latar apik untuk kisah-kisah kuno, seperti kisah si buta dan si lumpuh kali ini.

…

HTB1pE0iHFXXXXbEXpXXq6xXFXXXN

.:::WonKyu:::.

            .: An absurd BL story from Suha Camui :.

…

Siwon baru melihatnya hari ini, sebuah keluarga tiba-tiba pindah ke rumah yang telah lama tak dihuni di daerah tempatnya tinggal. Namun pandangan matanya berhenti pada satu sosok yang ketika itu tengah duduk di kursi roda dengan kedua mata yang tertutup kapas. Kulitnya tampak pucat dengan rambut ikal nyaris kecokelatan. Sosok yang menurut Siwon seperti boneka porselen yang telah kehilangan tali-talinya untuk bergerak.

 

Desir angin musim semi terasa mulai bertiup, hangat yang terasa sangat nyaman. Bunga yang telah dia tanam pasti sebentar lagi akan berbunga.

.

Ditiap pagi sejak awal Maret, Siwon seringkali menitipkan tiap tangkai bunga-bunga yang sudah ditanamnya pada Ahra untuk diberikan pada Kyuhyun, sosok bagai boneka yang membuatnya merasakan musim semi lebih cepat.

 

Dia mendengar cerita cukup banyak tentang Kyuhyun dari Ahra. Pemuda itu mengalami hal buruk sampai membuatnya kehilangan kornea mata dan mengalami shock hebat sehingga tidak ingin bicara dengan siapapun, bahkan Ahra dan juga orangtuanya sudah cukup putus asa dengan Kyuhyun yang seperti itu.

.

‚ÄúKau tak perlu memberikan pupuk tiap hari, ataupun memberinya air tiap saat. Karena hal itu justru bisa membuat tanaman cepat mati.‚ÄĚ

 

Tidak ada jawaban apapun. Kyuhyun tetap memberikan air pada pot-pot kecil tanaman yang dibeli oleh Ahra.

 

Siwon menghela pelan, lantas tersenyum, ‚ÄúBegitupula dengan perasaan, Kyuhyun-ah. Kau tak perlu memperlakukannya dengan special. Kau hanya cukup memberikan apa yang semestinya kau beri, dan membuang apa yang semestinya tidak harus disimpan. Semuanya dengan kadar cukup. Karena dari kecukupan itu justru membuat perasaan yang kita tanam akan menjadi istimewa dengan sendirinya.‚ÄĚ

 

Tep.

 

Gerakan tangan Kyuhyun berhenti dan meletakkan alat penyiram, ‚ÄúPulanglah.‚ÄĚ Hanya satu kata itu yang mampu dihasilkan pita suaranya.

 

Siwon tahu dia sudah membuat Kyuhyun tidak nyaman, dan perlahan mundur kebelakang sebelum akhirnya berbalik pergi. Meninggalkan Kyuhyun sendirian dengan semilir angin hangat senja itu.

.

Keesokannya, Kyuhyun pikir Siwon tak akan pernah datang lagi, namun ia salah. Lelaki itu datang dengan kembali memberinya setangkai bunga forshytia, meski ia tetap tak dapat melihatnya.

 

Hanya itu, dan setelahnya hening beberapa saat sampai dia merasa bahwa Siwon sudah tidak ada.

.

‚Äú‚Ķ Canola di Cheongsando akan sangat cantik sekali jika pertengahan maret seperti ini. Sekarangpun Gwangsang diliputi oleh gugurnya bunga plum. Lalu azalea akan sangat indah jika dilihat di Gunung Yeongchwisan. Jika kau sudah sembuh nanti, ayo kita pergi kesana.‚ÄĚ

 

Hanya sepenggal kalimat bernada riang itu yang Kyuhyun dengar dari Siwon, sebelum akhirnya dia kembali ke Seoul dan bersiap untuk menuju Jepang, di mana dia akan melakukan operasi tlansplatasi kornea mata. Tidak ada satu kata perpisahan yang terucap dari bibirnya saat itu.

 

Karena sejak awal, Kyuhyun tak pernah menganggap kalau Siwon adalah seseorang yang pantas untuk dia ucapkan salam perpisahan. Lelaki itu bukan apa-apa baginya. Itulah yang Kyuhyun tanam sejak awal.

.

‚ÄúOppa, apa Kyuhyun sudah berangkat?‚ÄĚ

 

‚ÄúHaa‚Ķ rumah ini baru saja dikosongkan.‚ÄĚ

 

‚ÄúKau tak ingin pulang?‚ÄĚ

 

‚ÄúBenar juga, ini sudah sore. Umma pasti khawatir.‚ÄĚ

 

Perlahan Jiwon mendorong kursi roda milik kakaknya menuju rumah mereka yang hanya selisih lima rumah dari rumah Kyuhyun, dengan membawa sebuah tempat berisi tangkai-tangkai bunga yang sejak awal Siwon berikan untuk Kyuhyun. Tangkai-tangkai bunga itu sudah layu, namun Siwon mendekapnya dengan hati-hati di atas pangkuannya.

‚ÄúJiwon-ah, apa menurutmu tlansplantasi kornea Kyuhyun akan berjalan lancar?‚ÄĚ

 

‚ÄúKurasa pasti semuanya akan baik-baik saja. Mereka keluarga kaya, pasti akan melakukan apapun untuk kesembuhan anak mereka.‚ÄĚ

 

‚ÄúBegitu ya‚Ķ Kuharap suatu saat nanti dia bisa kembali melihat dan mengunjungi Gunung Yeongchwisan dan juga Cheongsando saat musim semi.‚ÄĚ

 

Jiwon terhenyak sesaat, lantas berbisik, ‚ÄúOppa, mungkinkah kau‚Ķ‚ÄĚ

 

‚ÄúHuh?‚ÄĚ

 

‚ÄúAh, bukan apa-apa.‚ÄĚ

 

Jiwon menyimpan kata-katanya sendiri, membuat kalimatnya tergantung. Dia menyadari satu hal saat itu, bahwa kakak laki-lakinya sudah berubah. Dan ketika keduanya melewati jalan setapak yang diapit oleh pepohonan plum, seketika bunga-bunga kecil berwarna merah muda pucat tersebut berguguran, mengiringi harapan kosong yang sejak dulu dia buat.

 

Gadis itu mendongak dan menatap langit biru yang hampir hilang, sembari berdoa untuk kebahagiaan kakaknya. Agar ‚Äėbahagia‚Äô bukan hanya akan menjadi kata kiasan ataupun penghiburan. Agar kakaknya yang lumpuh sejak lahir itu mampu ‚Äėberjalan‚Äô.

~~~

 

Surat-surat yang Tak Akan Pernah Sampai Padamu

Siapa bilang pernikahan bisa terjadi hanya jika berlandaskan cinta? Omong kosong. Tanpa cinta, kau bisa menikah dengan orang asing yang bahkan tak pernah kau kenal.

 

Aku adalah Choi Siwon, seseorang yang harus menikah dengan orang asing, terlebih lagi dengan seorang lelaki. Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika membuat skenario hidupku, namun ini adalah hal paling gila yang ada dalam hidupku.

 

Entah sejak kapan aku hidup bersamanya. Bahkan aku lupa kapan kami menikah, aku tidak peduli, pada pernikahan ini ataupun pada dirinya.

 

Aku pria normal yang bahkan telah memiliki kekasih yang cantik dan juga baik, terlebih lagi aku mencintainya. Hanya wanita itu yang kuizinkan untuk berada sisisiku, mendampingi sisa hidupku dan membahagiakanku selamanya. Tidak ada dia, atau orang lainnya.

.

.

Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, karena semuanya sudah memiliki skenarionya masing-masing. Daun yang jatuh. Angin yang berhembus. Tunas yang tumbuh. Dan juga tentang cinta…

 

Mungkin orang berpikir, aku adalah orang yang paling bodoh karena menikah hanya demi sebuah janji pada wanita tua untuk mendampingi hidup putranya. Ya, aku menikah dengan seorang laki-laki pewaris dari keluarga yang kaya raya.

 

Namun aku tak ingin menyesali keputusan untuk menikah dengannya, karena jika wanita tua itu tak bertemu denganku, maka aku tak akan mampu melihat langit senja  serta malam yang sangat kusuka.

 

Hanya dengan memikirkan hal itu mampu membuatku bersyukur ribuan kali, “Ah, aku bersyukur masih hidup hingga detik ini…”

 

Choi Siwon, aku menyembunyikan satu rahasia darinya. Rahasia tentang hatiku. Rahasia bahwa sesungguhnya dialah orangnya, yang kucari selama ini. Seseorang yang membawa kunci hatiku selamanya.

 

.

Surat-surat yang Tak Akan Pernah Sampai Padamu

©

Suha Camui

Disclaimer : Choi Siwon dan Cho Kyuhyun bukanlah milik saya, tapi cerita ini asli dari saya dan saya hanya menggunakan nama mereka.


.

“Ayo kita buat kesepakatan, Tuan Cho.”

 

Kyuhyun tidak mengatakan apapun dan menunggu lawan bicara di depannya menjelaskan mengenai sebuah surat yang terjulur di atas meja.

 

“Surat ini berisi kontrak tentang pernikahan kita. Kau dan aku akan menikah. Tentu saja pernikahan kita akan berlangsung seperti pernikahan pada umumnya, tapi kukatakan satu hal padamu bahwa aku telah memiliki seorang kekasih dan dia seorang wanita.” Siwon memberi jeda dengan menyeruput secangkir esspresso, “Aku tidak mengenalmu sebelumnya dan begitupula sebaliknya dirimu. Kita baru dua kali bertemu termasuk hari ini, jadi aku ingin kita membuat kesepakatan demi diri sendiri.”

 

“Kalau begitu, apa keuntungan yang kudapatkan dari kesepakatan ini?”

 

Pria yang baru menginjak usia 27 tahun itu menyeringai tipis, “Secara garis besar, kau dan aku menikah hanya selama Ibuku hidup. Dia satu-satunya yang berharga dalam hidupku, itu sebabnya kusetujui untuk mengabulkan keinginan terakhirnya. Selebihnya kau baca saja surat yang sudah kubuat itu.”

 

Kyuhyun diam sebentar, mengamati wajah pria yang sedang menyesap kopi beraroma pekat sembari memandangi jalanan Seoul siang itu. Tangannya langsung mengambil pena dan menandatangani surat dari Siwon.

 

“Kau tak membacanya?”

 

“Aku sudah tahu apa isinya.”

 

“Hm?”

 

“Pernikahan kita hanya sebatas kontrak ini, selama ibumu hidup, maka aku adalah istrimu, Tuan Choi. Maaf, jam makan siangku sudah habis…”

 

“Baiklah, aku juga harus kembali.”Siwon berdiri dan merapikan jasnya, namun sebelum beranjak, dia mengamati laki-laki di depannya.

 

“Huh?” Kyuhyun tidak mengerti dengan tangan yang terjulur di hadapannya.

 

“Sebagai bukti sahnya kontrak kita.”

 

Kyuhyun paham dan segera menyambut uluran tangan Siwon.

 

Sentuhan pertama terasa dingin…

.

.

“Hei, kau tak pernah cerita tentang mengenal pemimpin Choi Group padaku. Apa yang kalian bicarakan?”

 

“Kami akan menikah.”

 

Laki-laki jangkung itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan meletakkan kardus berisi buku-buku baru untuk Kyuhyun susun. Tunggu! Meni—“APA?!”

 

Kyuhyun sedikit memejamkan matanya saat Changmin, anak pemilik toko buku tempatnya bekerja sekaligus teman ketika SMA, berteriak dan nyaris membuat Kyuhyun hampir tuli sesaat. Apa anak itu tidak sadar kalau lengkingannya itu sangat berbahaya.

 

“Bagaimana mungkin, Kyuhyun! Kau—dia—”

 

“Itu permohonan terakhir Nyonya Kim.” Kyuhyun segera memotong ucapan rekan kerjanya.

 

“Nyonya Kim?” Changmin mengambil beberapa buku dan menyusunnya di rak, “Jadi, Nyonya Kim yang sering kau temui di rumah sakit adalah ibu dari Tuan Choi?”

 

“Ya.”

 

“Dan kau langsung menerimanya begitu saja?”

 

Kyuhyun memberi jeda sebelum menjawab, “Ya.”

 

Ya Tuhan! Changmin menoleh, mengamati ekspresi wajah Kyuhyun namun seperti biasa, dia bukan orang yang ahli untuk hal itu. Di matanya, Kyuhyun tipikal orang yang tidak akan menjawab sebelum ditanya, dan itu sulit. Terlebih lagi, semenjak kedua orangtua sahabatnya itu meninggal ketika usianya 15 tahun, membuat dirinya semakin menutup diri.

 

Dan yang terakhir Changmin tahu, Kyuhyun sedikit terbuka dengan Nyonya Kim. Wanita itu menjadi satu-satunya alasan Kyuhyun untuk melanjutkan hidupnya. Nyonya Kim jugalah yang membiayai kehidupan Kyuhyun sampai laki-laki itu menyelesaikan masa kulaihnya dan bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.

 

Laki-laki bermarga Shim itu menghela napasnya, “Tidak kusangka kalau kau akan menikah lebih dulu…”

 

Kyuhyun tidak merespon kalimat Changmin yang barusan. Lebih tepatnya tidak tahu jawaban apa yang benar dari pernyataan itu.

 

“Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk langsung menelponku.”

 

Kyuhyun menoleh dan tersenyum tipis, “Terima kasih, Changmin-ah.”

.

.

“Siwonnie, apa terjadi sesuatu?”

 

“Hm?”

 

“Kau melamun dari tadi. Apa kau tidak suka menu makan malam hari ini?”

 

Ah~! Dia terlalu memikirkan tentang kontraknya dengan Kyuhyun sampai mengabaikan makan malam dan juga wanita cantik berambut ikal di depannya. “Tidak ada apa-apa, Jiyeon-ah.” Dia mengelus pipi kekasihnya. “Dan kau tahu, samgyetangmu adalah yang terenak.”

 

Wanita itu, Han Jiyeon, memicingkan matanya, “Kau bohong.”

 

“Jiyeon-ah, apa selama kita bersama aku pernah berbohong padamu?”

 

“Tentu saja tidak.” Jiyeon kembali menyuap samgyetang buatannya, ¬†“Tapi kau terlihat aneh hari ini. Kau selalu menceritakan apapun selama kita bersama.”

 

Siwon tersenyum dan mengelus punggung tangan Jiyeon, “Aku hanya mengkhawatirkan Umma.”

 

Wanita berusia dua tahun lebih muda dari Siwon itu mengangguk, “Bagaimana kalau akhir pekan nanti kita menjenguk Umma?”

 

“Ya.”

.

.

 

“Nyonya Kim…”

 

Wanita yang sedang melihat sebuah album foto menoleh kearah pintu dan melihat tamunya, “Masuklah, Kyuhyun-ah.”

 

Kyuhyun tersenyum tipis dan masuk, meletakkan buah yang dia beli sepulang kerja ke atas nakas. Melihat wanita yang tengah duduk di kursi rodanya itu kembali fokus pada album fotonya, Kyuhyun mengambil selimut dan menyampirkannya ke punggung Nyonya Kim.

 

“Udara malam tidak baik untuk tubuh anda, Nyonya Kim.”

 

Nyonya Kim tersenyum, meskipun keriput telah nampak, tapi wajah cantiknya masih bertahan. “Kalau begitu ambillah kursi dan temani aku sebentar lagi sampai aku mengantuk.”

 

Menuruti perkataan Nyonya Kim, Kyuhyun segera mengangkat kursi dan menempatkannya di samping wanita itu.

 

Nyonya Kim langsung menutup album foto dan membiarkannya berada di atas pangkuannya. “Aku sedang teringat dengan sebuah cerita yang pernah kubaca saat menjadi guru dulu, kau mau mendengarnya?”

 

Kyuhyun mengangguk.

 

Nyonya Kim tersenyum lembut melihat anak yang duduk di sampingnya, “Dahulu ada malaikat yang turun kedunia karena jatuh cinta pada seorang manusia. Dia mematahkan kedua sayapnya agar bisa berada di sisi manusia itu, agar manusia itu bisa berbalik mencintainya. Namun sayang, si manusia sudah lebih dulu mencintai manusia lainnya. Sang malaikat yang sudah kehilangan kedua sayapnya tak mampu terbang kembali kesurga, dia hanya bisa menangisi kebodohannya.

 

Lalu, malaikat lain yang melihat si malaikat menyedihkan kemudian ikut turun kedunia, menemani malaikat yang telah kehilangan sayapnya, membagi cahayanya agar mereka bisa bertahan bersama, agar dia bisa terus berada di sisi sang malaikat hingga akhir.”

 

“Nyonya Kim…”

 

Wanita itu menyadari airmata telah menggenang di tepi mata lantas menyekanya sendiri, “Kyuhyun-ah, maukah kau berjanji satu hal padaku?”

 

Kyuhyun mengambil kedua tangan yang sudah mengkerut namun begitu lembut dan hangat, menggenggamnya dengan hati-hati, “Apapun akan kulakukan untuk mengabulkannya, Nyonya Kim.”

 

“Kalau begitu, maukah kau berada di sisi Siwon-ku?”

 

Kali ini laki-laki beriris kecokelatan itu tidak menjawab dan hanya terdiam. Dia merasa telah mengkhianati kebaikan wanita tua itu yang justru sudah menyelamatkan hidupnya.

 

“Siwon adalah malaikatku, Kyuhyun-ah. Sejak kecil dia sudah mengalami hal-hal yang berat dikeluarga Choi, tapi dia tidak pernah mengeluh sedikitpun. Siwon akan mengangkat wajahnya lebih tinggi jika ingin menangis dan melewati tembok yang dibangun ayahnya. Aku ingin memberikan kebahagiaan untuknya tapi waktuku hampir habis…”

 

“Tolong jangan berkata seperti itu!” Sergah Kyuhyun. Dia tidak sanggup melihat wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.

 

Nyonya Kim menyeka kembali airmata yang sempat jatuh dan tertawa kecil untuk mencairkan suasana. “Ah, benar juga, aku akan hidup 100 tahun lagi untuk melihat Siwon dan kau bahagia.” Kini wanita itu menghadap Kyuhyun dan memandang tepat di mata laki-laki yang menggenggam tangannya seolah tidak ingin melepaskannya pergi barang sejenak. “Tetaplah di sisi Siwon, Kyuhyun-ah. Bagilah cahayamu untuknya dan jangan pernah tinggalkan dia.”

 

“Aku berjanji, Nyonya Kim.”

 

Desir angin malam itu semakin kuat, hingga mampu menerbangkan dedaunan yang belum menguning. Musim gugur yang sebentar lagi akan berakhir membuka buku lama yang sudah usang dan melanjutkan sebuah kisah yang sempat berhenti.

.

Ketika ikrar telah terucap tulus  tanpa ragu, maka malaikat akan membawanya ke surga dan menyerahkannya pada Tuhan. Bahwa janji yang terucap harus ditepati tanpa kompromi, meski harus melewati masa yang jauh sekalipun.

.

Next to Part 2

.

a/n: dan part 2-nya masih otw di pikiran Author ūüėÄ *ditimpukin pembaca.

WonKyu ::: One Letter

Bisakah kau mendengarnya? Bisakah kau melihatnya? Aku bahagia sekarang… Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Saat pertama kali aku berjumpa denganmu…

::: One Letter :::

:::…::: An absurd story by Suha Camui:::…:::

:::…:::

 love letter

Membosankan.

 

Lagi-lagi kata itu yang menyelip pada tiap gerak jarum jam hidupnya. Menyebalkan. Semuanya benar-benar tidak ada yang bisa membuat pemuda itu tertarik atau berniat untuk sedikit antusias pada sesuatu.

 

Dia sudah memiliki segalanya. Tapi sama saja seperti tidak memiliki apapun.

 

Dia dincintai dan dikagumi semua orang. Tapi ia tidak benar-benar merasakan cinta.

 

Dia ingin sesuatu yang baru. Sesuatu yang mampu menambal ruang dalam hatinya yang kosong melompong. Dia ingin benar-benar bisa menikmati dan merasakan, seperti apa ‚ÄėHidup‚Äô yang sesungguhnya.

 

Tanpa pemuda itu tahu, dibalik awan, sang mentari tengah bersenda gurau tentang takdirnya.

.

.

.

Kyuhyun menghela sebentar sebelum memutar knop pintu rumahnya yang terbilang cukup mewah. Ayah yang berkerja sebagai dosen senior di salah satu universitas elit di Seoul. Ibunya juga seringkali terlibat acara amal yang diadakan beberapa yayasan pemerintah. Juga seorang kakak perempuan yang sedang melanjutkan studinya di sebuah universitas luar negeri, membuat kehidupan Keluarga Cho cukup menjadi sorotan publik.

 

‚ÄúKyu, kau baru pulang? Kemarilah, nak‚Ķ‚ÄĚ

 

Alisnya mengerenyit saat sang ibu yang biasanya akan marah jika dia terlambat pulang sekolah, malah menyambutnya dengan sapaan halus dan senyum yang menghiasi wajah tuanya.

 

Pemuda itu menurut. Dia berjalan keruang tamu dan dari jarak beberapa meter sebelum sampai, dia bisa menangkap seseorang tengah duduk di depan ayahnya dengan senyum tipis yang ramah.

 

Tamu ayahnya. Pantas saja, dengusnya dalam hati.

 

‚ÄúKyu, dia Choi Siwon, mantan murid Appa dulu dan sekarang bekerja sebagai dosen. Dia akan menjadi tutormu mulai sekarang.‚ÄĚ

 

Bola mata seperti kelereng cokelatnya membulat. Orang bodoh mana yang bersedia menjadi tutor untuk seorang jenius seperti Cho Kyuhyun?!

…

…

…

‚ÄúMenyebalkan.‚ÄĚ Kyuhyun meletakkan nampan makan siangnya keatas meja dengan kasar, membuat seorang pemuda lain yang lebih dulu duduk mendongak dengan roti yang belum sepenuhnya dia kunyah.

 

Pemuda bernama keluarga Cho itu mengaduk menu istirahatnya tanpa berniat untuk menelan barang sesendokpun.

 

‚ÄúAda apa?‚ÄĚ

 

‚ÄúAda orang bodoh yang menjadi tutorku.‚ÄĚ

 

Changmin tergelak. Menjadi tutor untuk seorang jenius seperti Kyuhyun adalah kesalahan fatal. Tidak sekali-duakali pemuda itu berhasil menendang orang-orang suruhan Appa-nya yang berotak dangkal, yang hanya bermodal kata bualan.

 

Tceh! Memikirkan itu membuat Changmin menggeleng tanpa berniat untuk memberi nasehat biar Cuma sepatah kata, karena itu adalah tindakan sia-sia.

 

Kyuhyun memiliki watak keras kepala dan susah diatur. Mengingat usianya yang wajar, 17 tahun, dengan emosi yang belum stabil penuh. Meski begitu, loker miliknya tidak pernah kosong dari puluhan surat berwarna merah muda dengan aksen gambar hati dimana-mana.

 

Kyuhyun pemuda tampan diusianya. Wajar jika para remaja perempuan melihatnya dengan binar lain yang justru membuatnya muak. Karena setidaknya Kyuhyun tahu, tidak ada kata murni dalam hati mereka.

 

Semua remaja yang mengirim surat dan cokelat hanya ingin popularitas. Dengan berjalan beriringan saja sudah membuat sebagian orang seolah mengangkat derajat orang itu.

 

Changmin kembali menatap nampan di seberangnya yang sudah tidak layak lagi karena semua makanan tumpah tak menentu. Dia hanya menggeleng. Si bungsu Cho benar-benar dalam mood yang buruk sepertinya.

 

‚ÄúNikmati saja, Kyu. Kau juga bisa ‚Äėbermain‚Äô dengan mereka, sama seperti sebelumnya. Dan seminggu kemudian mereka mundur dengan terhormat. Bukan perkara sulit untukmu yang sudah menolak guru privat lebih dari 10 orang.‚ÄĚ

 

Dia menepuk pundak Kyuhyun sebelum pergi menuju counter food dan meminta tambahan makanan.

.

.

.

Kyuhyun melempar tasnya keatas kasur dan dirinya bergerak duduk disalah satu sofa di kamarnya. Dia mengeluarka PSP dan menamatkan game yang sebelumnya dia mainkan selama pelajaran sekolah berlangsung.

 

‚ÄúSelamat siang, Kyu. Hari ini aku mulai mengajarmu. Apa kau punya kesulitan belajar?‚ÄĚ

 

Kyuhyun memandang malas seseorang dengan setelan kemeja rapi yang baru masuk kekamarnya. Dia mendengus sebentar lalu focus kembali pada game-nya.

 

Meski tidak melihat, namun dengan bunyi, Kyuhyun tahu pria itu duduk dikursi belajarnya. Beberapa kali juga dia mendengar bunyi kertas yang bergesek. Hal itu membuatnya sudah tidak khusyuk lagi.

 

‚ÄúPulanglah.‚ÄĚ

 

Pria itu, yang Kyuhyun ketahui bernama Choi Siwon, menoleh. ‚ÄúSetidaknya biarkan aku disini sampai malam nanti. Ayahmu sudah memasukkanku sebagai dosen di Kyunghee, jadi aku ingin membalas jasanya meski tidak melakukan apapun.‚ÄĚ

 

Kyuhyun berdecih. Penjilat rupanya. ‚ÄúTerserahmu. Dan lakukan tanpa suara apapun. Aku benci berisik.‚ÄĚ

 

Setelahnya, sampai jam makan malam, Siwon menuruti perkataan Kyuhyun untuk tidak gaduh. Dia melakukan semuanya dengan perlahan karena tdak ingin mengusik Kyuhyun.

 

Sedikit banyak dia mendengar cerita tentang si bungsu Cho itu dari sang ayah. Pribadi yang cenderung tertutup membuat kepala keluarga Cho tersebut cukup khawatir. Dan jujur Siwon harus akui, Kyuhyun tidak sama dengan pemuda yang baru menjadi mahasiswa yang sering dia jumpai di kampus. Mereka biasanya lebih suka berada dikeramaian, yang berkebalik dengan Kyuhyun.

 

‚ÄúWaktumu habis, Tuan Choi.‚ÄĚ

 

‚ÄúAh, iya.‚ÄĚ Buru-buru Siwon memberesi kertas-kertas nilai anak didiknya, juga merapikan kembali meja belajar Kyuhyun yang sempat dia serak.

 

Siwon berdiri, namun tubuhnya tidak bisa bergerak lagi ketika melihat Kyuhyun yang baru keluar dari kamar mandi dengan bathrope soft pink, sedang mengusek rambutnya sendiri. Terlihat berantakan. Namun dia tidak menyangka, Kyuhyun yang seorang laki-laki memiliki kulit serupa ubur-ubur. Seolah transparan. Putih pucat dan bening. Seperti kaca. Indah.

 

Matanya tidak berhenti bergerak mengikuti gerik Kyuhyun meski tubuhnya kaku. Dia menelan ludah susah payah saat dia sadar kalau Kyuhyun sudah telanjang dan mengenakan bajunya dengan santai dihadapan Siwon.

.

Entah apa ada yang aneh dengannya, Siwon tidak tahu. Yang jelas sejak ia melihat tubuh polos Kyuhyun, otaknya serasa kacau. Tiap melihat Kyuhyun, akal warasnya menguap hilang. Jantungnya juga seringkali memompa cepat.

 

Kyuhyun seperti magnet untuknya. Dia seperti kutub lain yang akan selalu tertarik oleh Kyuhyun meski pemuda itu selalu diam.

 

Dan ketika Siwon menyadari bentuk sesungguhnya perasaan yang tersimpan selama ini, Tuhan memulai klimaks sebuah cerita.

.

.

.

Pemuda itu tampak gusar. Sedari tadi dia hanya mondar-mandir di kamarnya yang luas sambil sesekali melihat jam weker di atas nakas. Dia melihat pintu berulang kali, tapi sepertinya orang yang dia resahkan tidak akan datang.

 

Keberadaan Siwon dalam kamarnya seperti sudah kebiasaan, yang ketika tidak ada, ia merasa kehilangan. Kyuhyun sendiri tidak mengerti, tapi dia menganggap suara-suara yang Siwon timbulkan dari gesekan kertas-kertas ataupun suruhannya untuk belajar, membuat Kyuhyun sendiri merasa betah.

 

Setelah begelut dengan pikirannya, akhirnya Kyuhyun putuskan untuk mengunjungi rumah pria Choi itu. Kyuhyun tentu saja akan heran jika orang serajin Siwon tidak ada di kamarnya, yang sebenarnya hanya mengerjakan tugas mengoreksi nilai para mahasiswanya, mengesampingkan setatusnya sebagai seorang tutor.

.

Pemuda manis itu memandang pintu di depannya. Pintu kamar sebuah apartemen sederhana. Dia raih gagang pintu, matanya sedikit terbelalak. Tidak terkunci. Teledor sekali, batinnya.

 

Dengan langkah perlahan, Kyuhyun masuk. Memandangi sebuah ruang yang tidak begitu luas namun terkesan simple. Hanya ada meja kecil di tengah ruangan, dengan beberapa rak lemari buku yang terlihat sudah penuh. Ada meja belajar dengan beberapa map di atasnya.

 

‚ÄúAnnyeong.‚ÄĚ

 

Tidak ada sahutan, membuat Kyuhyun masuk lebih dalam. Tidak sungkan lagi, dengan santainya dia langsung menuju kamar, hanya mengikuti perasaannya saja. Baru saja tangannya menekan knop pintu, dia mendengar  bunyi benda jatuh yang cukup kuat. Buru-buru dia putar kemudian masuk kedalam sebuah kamar tidur yang tidap terlalu luas.

 

Maniknya membulat melihat Siwon tertelungkup di atas lantai kamar yang hanya beralas karpet berwarna biru gelap.

 

‚ÄúSiwon!‚ÄĚ Kyuhyun menghampiri laki-laki itu dan sekuat tenaga membopong tubuh yang lebih besar darinya keatas kasur. Nafas pria itu memburu, disertai keringat yang terus mengalir dan membasahi wajahya yang tampak padam.

 

Pria itu demam.

 

Kyuhyun menghela. Dia memandang sekeliling, lalu memandang wajah Siwon yang tampak tidak tenang. Sedikit banyakpun dia  juga sudah mendengar cerita tentang hidup Siwon yang dibesarkan disebuah panti asuhan.

 

Entah kenapa ada sedikit ngilu didadanya.

 

‚ÄúHngg…‚ÄĚ Siwon mengulet saat ada sesuatu yang dingin menyentuh keningnya, rasanya sangat nyaman sekali. Matanya yang terasa cukup panas perlahan mengerjap, membuatnya melihat cukup jelas siluet seorang laki-laki yang duduk di pinggir ranjangnya. ‚ÄúKyu-hyun?‚ÄĚ

 

‚ÄúJangan salah paham, a-aku di sini…‚ÄĚ

 

Sret!

 

Siwon memeluk pinggang pemuda yang baru berusia 17 tahun itu dan bertindak layaknya seekor kucing yang bermanja pada majikannya. ‚ÄúTubuhmu dingin… Enak…‚ÄĚ. Setelahnya terdengar dengkuran halus.

 

Tapi Kyuhyun malah panik. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat dan wajahnya terasa panas. Dia ingin pulang tapi Siwon memeluk pinggangnya cukup kuat.

 

Sampai keesokannya, Siwon terbangun dengan tubuh tanpa busana sambil memeluk Kyuhyun yang sama-sama telanjang.

.

Derit pada roda takdir yang bergerak mulai terdengar, tapi bukan manusia namanya jika tidak mengindahkan peringatan tersebut. Mereka terlalu sibuk pada hal yang ada di depan mata, tanpa menyadari takdir tak akan pernah berubah.

.

Siwon tahu perasaannya salah. Sangat salah. Hampir tiap minggu dia membuat pengakuan di gereja, namun itu seperti sia-sia saja, karena tiap dia berhadapan dengan Kyuhyun, otaknya kosong.

 

Dua hari yang lalu Tuan Cho mengatakan jika dia ingin Siwon menikah dengan Ahra, kakak perempuan Kyuhyun, dan itu sukses membuat si bungsu menjadi kacau. Setelah makan malam itu usai, Kyuhyun menarik tangan Siwon ke dalam kamarnya dan menciumnya sangat lama.

 

Dia dan Kyuhyun saling mencintai. Namun Kyuhyun yang masih remaja membuatnya menjadi seorang yang posesif, dan Siwon sekali lagi tidak berdaya untuk menolak apapun yang Kyuhyun lakukan padanya.

 

Dan di sinilah mereka, dalam sebuah mobil milik Siwon. Kyuhyun merengut sambil melipat kedua tangan di depan dadanya, dan Siwon yang berulang kali menghela napas.

 

‚ÄúKyu…‚ÄĚ

 

‚ÄúKau tidak mencintaiku!‚ÄĚ

 

Siwon membenturkan kepalanya pada stir mobil dan meremas rambutnya kuat-kuat. ‚ÄúRibuan kali kukatakan, aku mencintaimu…‚ÄĚ

 

‚ÄúKalau begitu bawa aku pergi, Choi! Kemanapun! Nikahi aku!‚ÄĚ

 

‚ÄúKau tidak mengerti Kyu…‚ÄĚ. Perlahan, roda mobil bergerak. ‚ÄúAku harus mengantarmu pulang.‚ÄĚ

 

Kyuhyun mendelik tidak suka. ‚ÄúTurunkan aku!‚ÄĚ

 

‚ÄúTidak!‚ÄĚ

 

Kyuhyun yang sudah muak berdebat hampir seharian dengan Siwon nekat membanting stir hingga mobil hitam tersebut menabrak tepi trotoar jalan.

 

‚ÄúApa kau sudah gila?! Kau bisa membuat kita mati, Cho Kyuhyun!‚ÄĚ

 

Salju yang tiba-tiba turun seolah mendramatisir keadaan antara Siwon dan Kyuhyun. Pemuda itu berlari secepat yang dia bisa, mengabaikan kakinya yang hampir terpleset karena jalanan yang licin. Dia mencintai Siwon. Dia hanya butuh pria itu. Kyuhyun tidak peduli dengan apapun bahkan keluarganya sendiri.

 

‚ÄúKyuhyun, awas!‚ÄĚ

 

Semuanya terjadi sangat cepat, bunyi dentuman benda jatuh yang kuat, bunyi decit karet ban mobil yang beradu dengan licinnya jalanan, serta bunyi cairan yang mengalir cepat, membuat Kyuhyun ingin melupakan semua yang terjadi malam itu.

 

Malam bersalju sepuluh tahun lalu, Kyuhyun kehilangan cinta yang untuk pertama kalinya benar-benar dia miliki. Siwon melindunginya. Tubuhnya tak berhenti gemetar sembari memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa. Rasa hangat yang Kyuhyun rasakan di pangkuannya malam itu bukanlah kehangatan milik Siwon, namun cairan merah yang perlahan merembesi pahanya dan mengalir, mengotori tumpukan salju menjadi genangan darah.

…:::…

…:::…

Hei, Siwon, aku ingin memberitahumu sesuatu, bahwa dulu aku pernah menulis sesuatu pada secarik kertas. Sesuatu yang berisi mimpiku. Aku bahkan menyembunyikan jurnalku itu pada sebuah lemari yang terkunci rapat agar tidak ada satu orangpun yang tahu.

 

Kau ingin tahu apa itu? Karena ini adalah kau, Choi Siwon, orang yang paling kucintai, maka akan kuberitahu.

 

Aku pernah berpikir untuk hidup bersamamu di sebuah tempat yang hanya ada kita. Aku dan kau menghabiskan waktu bersama, entah itu menunggu senja pergi, ataupun menyambut matahari terbit. Ditiap pagi, aku ingin membangunkanmu dengan ciuman lembut, dan kau akan tersenyum lantas membalas dengan mencium keningku. Setelahnya, aku akan membuatkanmu sarapan sebelum kau berangkat kerja.

 

Saat siang, aku akan mengurus sebuah kebun kecil yang sudah kita tanam bersama.

 

Saat sore, kau akan pulang dan langsung memelukku dan kemudian kita menyiapkan makan malam bersama.

 

Kemudian suatu hari kita mengadopsi bayi perempuan dari sebuah panti asuhan. Kita akan merawatnya dengan cinta dan kasih tanpa batas. Hingga gadis kecil itu akan semakin dewasa dan hidup bersama orang yang dia cintai. Menghabiskan sisa hidupnya sama seperti kita.

 

Mimpi yang konyol, kan? Itu sebabnya aku menyembunyikan mimpi ini dari siapapun.

 

Hei, Siwon, apakah surga itu begitu indah? Jika iya, kenapa kau pergi sendiri dan tidak mengajakku? Kau tahu, kau adalah orang paling jahat yang pernah kukenal. Pencuri tidak tahu diri yang sudah membawa semua cinta yang kumiliki.

 

Jadi kumohon satu hal, tolong… Kembalikan cinta yang sudah kau bawa pergi… kembali kesini‚Ķ kesisiku‚Ķ

:::…:::

One Letter

:::…:::

‚ÄúKyuhyun-ah!‚ÄĚ

 

Seorang laki-laki bersurai ikal mendongak saat namanya dipanggil. Buru-buru dia menutup jurnal dan memasukkan kedalam tas. Dia lantas tersenyum sembari berdiri dengan menenteng tas belanja yang cukup besar. ‚ÄúJaejoong Hyung, maaf kemarin aku sudah mengobrak-abrik dapurmu. Ini sebagai ganti bahan yang kupakai.‚ÄĚ

 

Laki-laki di depan Kyuhyun itu hanya menghela napas. Dia tidak heran lagi dengan pemuda yang sudah berani mengacaukan dapur hanya sekedar membuat waffle dan esspresso. ‚ÄúKau ini…‚ÄĚ

 

Sedesir angin yang barusan melewati Kyuhyun membuat pemuda itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya menoleh dan melihat satu punggung seseorang. Punggung yang pernah ia lihat sepuluh tahun lalu. Berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun, namun Kyuhyun percaya, bahwa sekilas barusan dia bisa melihat si pemilik punggung itu tersenyum. Entah pada apa…

 

Daun-daun yang sudah kering terlepas dari ranting, lantas membubung tinggi terbawa angin hingga ketempat yang tak pernah bisa dijangkau oleh manusia. Tempat dengan padang rumput luas dan semilir angin hangat yang berhembus pelan-pelan. Daun kering itu jatuh di atas telapak tangan seseorang yang tengah tertidur, menyampaikan surat yang tersirat dari hati seorang anak manusia yang rindu akan cintanya.

…:::selesai:::…

.

A/n: ¬†Huwaaa~ setelah lama banget hiatus, dan dari kemaren udah jungkir balik nginget password akun ini, akhirnya bisa posting juga ūüėÄ #bersihin debu dan sarang laba-laba

Ah saya lupa, Kyuhyun di sini sudah menjadi dosen di universitas tempat Siwon dulu mengajar. Karena ini sequel dari ff saya yang berjudul Happiness,  yang saya buat hampir 2 tahun lalu ^^a

Someday – 4 (End)

wonkyu

‚ÄúKyunnie-ya, kajja!‚ÄĚ Siwon menarik tangan seorang anak dengan pipi yang bulat, menyusuri jalan setapak pada gunung Yeongchwisan. Sampai di pertengahan, mereka berhenti dan merapat pada pagar kayu pembatas jalan setapak tersebut. ‚ÄúKyunnie, lihat‚Ķ!‚ÄĚ

Anak kecil pemilik pipi bulat itu langsung melebarkan matanya, menatap pemandangan indah berwarna ungu dengan tatapan penuh binar. Bunga-bunga Azalea yang tengah mekar pada musim semi dibulan Februari di Gunung Yeongchwisan sungguh menakjubkan.

‚ÄúCantik, kan?‚ÄĚ

‚ÄúUhm!‚ÄĚ anak kecil yang dipanggil ‚ÄėKyunnie‚Äô itu mengangguk dengan semangat. Mulutnya tidak berhenti menganga kagum dengan pemandangan di depannya.

‚ÄúKalau begitu, tahun depan pulanglah ke Korea, nanti kita akan mengunjungi pulau Jeju. Musim semi di sana sangat cantik!‚ÄĚ

‚ÄúJinjja? Kalau begitu, nanti Kyu akan minta ke Appa dan Umma untuk kembali berlibur ke Korea.‚ÄĚ

Siwon ikut tersenyum lebar melihat Kyuhyun tertawa dan memandang hamparan bunga Azalea yang tengah mekar sempurna. Semilir angin hangat musim semi berhembus pelan-pelan, menyisiri tiap helai surai halus keduanya. Itu musim semi terindah sekaligus terakhir yang Kyuhyun rasakan bersama Siwon.

Mereka berlari menyusuri jalan menanjak di Gunung Yeongchwisan sembari bergandengan tangan, tersenyum lebar tanpa henti, seolah itu adalah kali terakhir keduanya mampu bertukar senyum. Kyuhyun kecil bahkan sampai membuatkan dua mahkota yang berasal dari rangkaian bunga Azalea yang dibentuk melingkar, satu dipakai olehnya dan satu lagi dipakai Siwon. Dia tidak keberatan menjadi Sang Ratu hari itu, berperan layaknya anak perempuan yang tengah bahagia bersama anak lelaki berparas tampan yang terus menggandeng tangan kecilnya. Sampai-sampai mereka mengucap janji, bahwa hari itu, hanya ada Siwon Sang Raja dan Kyuhyun Sang Ratu. Tidak ada yang lain.

.

Last chapter of Someday

.

Hah. Hah. Hah.

Siwon mengatur napasnya ketika berhenti berlari dan sedang berdiri di pesisir pantai Okinawa, melihat senja yang hampir hilang dari pandangan matanya. Menatap focus pada seorang anak laki-laki yang tengah berdiri di tepi pantai. Ingatannya kembali pada kejadian 20 tahun yang lalu, saat dia dan Kyuhyun masih sama-sama bocah. Menggandeng tangan dengan erat dan tertawa bersama. Siapa sangka dewasa ini keduanya justru seolah-olah berada di tepi jurang yang berseberangan. Dekat dimata namun sangat sulit digapai.

 

‚ÄúKyu‚Ķ‚ÄĚ

 

Siwon bisa melihat tubuh kurus itu sedikit tersentak atas panggilannya barusan. Dan dengan perlahan, tubuh itu memutar, membuatnya bisa menatap iris almond yang selama ini hilang dari pandangannya. Kini di hadapan senja yang hampir hilang di Pantai Okinawa, Kyuhyun dan Siwon kembali menumbuk pandang satu sama lain. Deru ombak dan napas keduanya beriringan, berirama dengan serempak. Dentum jantung di dada membuktikan bahwa ini layaknya mimpi bagi Kyuhyun, namun nyata bagi Siwon.

 

Sampai akhirnya tubuh pria itu memerangkap tubuh Kyuhyun dalam pelukannya, mengucapkan kata maaf yang hanya terpendam dalam hati selama lima tahun ini. Siwon tidak peduli jika nanti Kyuhyun akan melempar dan menenggelamkannya di pantai, karena untuk saat ini, dia ingin menikmati desir aneh yang membuat seluruh tubuhnya menghangat.

 

‚ÄúMaaf‚Ķ‚ÄĚ entah sudah yang keberapa Siwon mengucapkannya sejak tadi tanpa memandang Kyuhyun. Dia terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung dengan menatap sepasang mata pemuda itu.

 

‚ÄúKenapa‚Ķ? Kenapa kau kembali, Siwon?‚ÄĚ

 

Pria itu melepas pelukannya kemudian menunduk, ‚ÄúKarena tempatku hanya di sisimu, Ratuku‚Ķ‚ÄĚ ini mungkin untuk pertama kali dalam beberapa tahun mereka tidak bertemu, Siwon menatap lurus iris mata yang hampir putus asa di depannya. ‚ÄúAku tidak pernah mencintai Kibum meski aku sudah berusaha. Sekuat apapun aku mencoba untuk memenuhi kepalaku dengan Kibum, namun mataku selalu melihatmu, Kyu‚Ķ hanya kau‚Ķ Sampai-sampai dadaku rasanya akan meledak karena kebodohanku yang telah membuatmu menderita seorang diri‚Ķ Sang Raja‚Ķ telah menjadi pria yang pengecut!‚ÄĚ

 

Apakah Kyuhyun bodoh? Jika iya, maka dia akan menerimanya tanpa protes. Bagaimanapun dia tidak mungkin membantah hatinya ketika melihat Siwon kini benar-benar berdiri di hadapannya, melepas peluk keduanya. ‚ÄúJika Rajaku adalah seorang pengecut, lalu kenapa dia sekarang berada di hadapanku dan menangis?‚ÄĚ, tangannya terangkat, menghapus beberapa tetes airmata yang jatuh di pipi Siwon.

 

‚ÄúKarena aku sudah menyakitimu terlalu banyak, Kyu…‚ÄĚ

 

‚ÄúSiwon-ah, setiap luka yang ada, akan selalu ada obatnya… Cepat atau lambat dari sembuhnya luka itu, hanya si penyembuh dan yang ingin sembuhlah yang tahu. Luka yang kualami selama ini masih basah, namun Tuhan telah memberikan obat untuk lukaku, Siwon-ah…‚ÄĚ

 

‚ÄúApakah aku masih pantas, Kyuhyun?‚ÄĚ

 

‚ÄúDasar bodoh! Berhenti mengatakan bahwa kau si pecundang, karena pada akhirnya kau adalah pemenangnya, Choi Siwon.‚ÄĚ

 

Tubuh Siwon merosot dan membuat Kyuhyun kaget. Pria itu bersimpuh memeluk lutut Kyuhyun sembari menangis sesungukan, sementara Kyuhyun mulai tersenyum perlahan sembari mengelusi helai rambut hitam pria yang akan selalu dia cintai.

 

Tidak ada yang salah dalam cinta. Tidak ada orang pintar ataupun bodoh dalam cinta. Yang ada di sana hanya orang yang saling mencintai. Hanya itu. Karena pada akhirnya hati yang sempat pergi jauh, telah menemukan singgasananya kembali.
.
.
Dari kejauhan, Jaejoong duduk melihat Siwon dan Kyuhyun di bibir pantai. Sampai Yunho menghampirinya dan menyerahkan sekaleng minuman dingin.

 

‚ÄúBagaimana?‚ÄĚ Yunho bertanya.

 

‚ÄúAku… Tidak tahu apakah ini mampu membuat dosa keluargaku pada keluarga Kyuhyun bisa terhapus.‚ÄĚ Jaejoong kembali menatap kedepan, dimana senja yang sebentar lagi akan hilang dari pandangan. ‚ÄúAyahku melakukan sesuatu yang buruk padanya, Yun…‚ÄĚ

 

Yunho yang duduk di samping Jaejoong perlahan mengelus punggung kekasihnya, ‚ÄúItu masalalu, Jae. Kau sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahan ayahmu.‚ÄĚ

 

‚ÄúIni bukan hanya tentang masalalu, Yunho, tapi hidup Kyuhyun nyaris hancur jika saja aku tidak mencoba untuk mencari tahu tentangnya. Aku bahkan masih ingat betapa kosongnya mata Kyuhyun ketika kita pertama menemukannya.‚ÄĚ

 

Yunho menghela napas, dia berusaha untuk tidak hanyut dalam alur percakapan yang diciptakan Jaejoong. ‚ÄúTuhan itu adil, Jae. Hari ini kau terluka, maka keesokannya kau bisa sembuh seketika. Begitupun dengan Kyuhyun, kau sudah berusaha untuknya, dan diapun bisa tersenyum kembali karena dirimu. Kau tahu kenapa ada rasa menyesal?‚ÄĚ

 

Jaejoong menggeleng, dengan mata yang terus menatap sekaleng minuman yang belum dibuka.

 

‚ÄúRasa menyesal itu ada agar kita tidak jatuh pada lubang yang sama, agar kita tahu dan lebih waspada ketika berjalan supaya tidak lagi merasakan sakitnya penyesalan. Jadi berhenti murung, Kyuhyun akan sedih melihatmu seperti ini.‚ÄĚ

 

Kali ini Jaejoong tersenyum, dengan airmata yang tiba-tiba merembesi pipinya. Dia menjatuhkan kepalanya pada pundak kokoh Yunho dan bersyukur pria itu selalu ada sebagai penopangnya yang selama ini bersikap sok kuat. Bibir penuhnya tersenyum ketika perlahan matahari semakin hilang di ufuk barat. ‚ÄúYunho-ya, terima kasih…‚ÄĚ

 

Yunho merangkul punggung Jaejoong, memberikan rasa nyaman untuk pria cantiknya, ‚ÄúJangan berterima kasih, kau seperti menganggapku orang asing saja.‚ÄĚ

 

Sepasang mata Jaejoong tertutup namun tak menghentikan laju airmatanya. Dia biarkan menetes dan hilang bersama kenangan pahit. Alasan sesungguhnya dia kabur dari rumah bukan hanya karena sang ayah yang menentang hubungannya dengan Yunho, tetapi ketika itu dia tidak sengaja mengetahui rahasia yang disimpan ayahnya selama beberapa tahun, bahwa pria tua itu telah menjebak Tuan Cho pada rentenir. Ayah Kyuhyun yang tidak sanggup membayar hutang kemudian dikejar dan dibunuh. Seluruh aset keluarga Cho dirampas, membuat Ibu dan juga Kyuhyun yang masih begitu muda harus kembali ke Jepang, karena hanya sepetak kecil rumah yang dulu ditempatilah harta yang tersisa.

 

Saat itu dia benar-benar merasa kecewa, lantas pergi meninggalkan adik lelakinya yang masih begitu kecil. Ah, ternyata dia juga antagonis dalam kisah lain. Dia membuat hidup adiknya menjadi hancur karena ambisi sang ayah. Namun sekarang dia bersyukur, bahwa karma telah menimpa keluarganya yang kini hancur. Dia tidak menyesal telah melakukan hal ini, karena rasa bersalah hampir membuatnya gila.
.
.
Kibum sesekali mencondongkan tubuhnya, melihat kekiri dan kekanan, berharap sang kakak cepat datang. Lelaki itu merengut kesal. Sekarang dia berada di Narita Airport dan berencana untuk pindah ke Austria, memulai hidup baru bersama Ibu dan juga kakak laki-lakinya. Ah iya, Kyuhyun dan Siwon juga kabarnya akan ikut. Hal itu membuat Kibum semakin tidak sabar. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kyuhyun.

 

‚ÄúUmma, aku ketoilet sebentar.‚ÄĚ

 

Nyonya Kim hanya mengangguk, melihat putranya beranjak dari kursi tunggu.

 

Kibum mengumpat kesal pada layar ponselnya saat mendapat balasan bahwa mereka terjebak macet. Sampai-sampai dia tidak memeperhatikan langkahnya dan… Splash! Kibum terkaget karena dia menabrak seseorang dan dia merasa dingin di bagian dadanya. Aish! Bajunya terkena tumpahan minuman lawan di depannya.

 

‚ÄúYa! Itu Chocholate Machiato-ku yang terakhir untuk hari ini!‚ÄĚ suara lengkingan barusan membuat Kibum memejamkan mata sembari mengelusi telinganya yang sedikit pengang.

 

‚ÄúMaaf, aku akan menggantinya.‚ÄĚ Sergah Kibum cepat.

 

‚ÄúHaish! Percuma kau ganti kalau aku tidak bisa meminumnya!‚ÄĚ Laki-laki di depan Kibum melepas kemejanya dan menyerahkannya pada Kibum, ‚ÄúIni! Kau cucikan saja bajuku! Ingat, jangan dikucek terlalu kuat, nanti kau merusak serat kainnya!‚ÄĚ

 

Lelaki itu pergi melengos begitu saja meninggalkan Kibum yang terbengong dengan memegang kemeja yang barusan disordorkan padanya. Apa-apaan laki-laki itu berteriak seperti wanita saja! Dan apa ini?! Aish! Jika Hyung-nya sudah sampai, Kibum pastikan akan benar-benar mengoceh panjang lebar melampiaskan kekesalannya hari ini.

 

Tanpa Kibum sadari, lelaki jangkung barusan tersenyum misterius, ‚ÄúI got you, Kim Kibum.‚ÄĚ Bibir lebarnya kini berubah menyeringai bak serigala yang diam-diam mengendap dan mengamati kelinci buruannya.

.

Someday

.

‚ÄúAppaaaaa~!‚ÄĚ suara teriakan seorang bocah berusia 5 tahun itu membuat Siwon segera keluar dari mobil dan… Hap! Dia menangkap tubuh putranya, menggendong sembari menghujani wajahnya dengan ciuman ringan. Tak berapa lama seorang wanita berambut ikal kecoklatan menghampiri keduanya—suami dan putra kecilnya.

 

‚ÄúHari ini Kyunnie belajar apa?‚ÄĚ

 

‚ÄúKyunnie belajar menggambar, Umma. Lihat, Songsaeng bilang gambar Kyunnie paliiinngg bagus dari yang lain…‚ÄĚ bocah bertubuh gempal yang di panggil ‚ÄėKyunnie‚Äô itu mengeluarkan secarik kertas gambar miliknya, kemudian memperlihatkannya pada Ibunya yang duduk di kursi depan mobil mereka yang perlahan meninggalkan sekolah.

 

‚ÄúOmo! Bagus sekali, iya kan, Appa?‚ÄĚ

Siwon yang tengah menyetir menganggukkan kepalanya karena dia harus tetap fokus pada jalan. ‚ÄúPutra Appa memang yang terbaik.‚ÄĚ pujinya.

‚ÄúKyuhyunnie, akhir pekan nanti ingin kemana, sayang?‚ÄĚ

Hening beberapa saat, wanita itu menoleh kebelakang dan mendapati putra kecilnya sudah tertidur. Mungkin karena kekelahan, seharian dia berada di sekolah. Wanita yang duduk di kursi samping Siwon— Hwang Yoora, melipat kertas gambar Kyuhyun. ‚ÄúSiwonnie, apa lebih baik aku berhenti bekerja saja?‚ÄĚ

 

‚ÄúHuh? Kenapa?‚ÄĚ

 

Yoora melihat lagi kebelakang, dimana Kyuhyun tertidur pulas. ‚ÄúLihatlah Kyuhyun, dia harus menunggu kepulangan kita berdua hingga sore. Rencananya setelah pertunjukan besok, aku akan berhenti dan ingin memfokuskan diri mengurus Kyuhyun.‚ÄĚ

 

Siwon tersenyum mendengarnya, tangan kirinya yang bebas lantas menggenggam tangan istrinya, ‚ÄúKalau begitu aku juga harus mengkosongkan jadwal ketika akhir pekan agar bisa menemani kalian. Curang sekali kalau hanya kau yang mengurus Kyuhyun.‚ÄĚ

 

Yoora membalas senyum Siwon. 6 tahun menikah dengan pria itu membuat hidupnya terasa benar-benar indah. Siwon adalah lelaki baik, ramah dan penyayang. Awal pertemuan mereka ketika sedang sama-sama menghadiri sebuah pertemuan bisnis yang diselenggarakan oleh sebuah hotel berbintang. Siwon adalah seorang pebisnis yang sukses, sedangkan dirinya adalah seorang designer yang cukup terkenal dikalangan artis.

 

Mereka bertemu. Berkencan beberapa bulan dan kemudian memutuskan untuk mengakhirinya di altar bersama. Mereka menikah dan dikaruniai seorang bayi laki-laki yang sehat bernama Kyuhyun. Choi Kyuhyun. Yoora tidak tahu apapun tentang rahasia dibalik nama itu. Nama seseorang yang dicintai Siwon sepanjang hidupnya—meski kini dia telah menikah sekalipun.

 

Dua tahun sebelum bertemu Hwang Yoora, Siwon dan Kyuhyun hidup bahagia bersama. Menikah dan menghabiskan waktu berdua meski bahagia hanya mereka yang merasakannya. Yunho dan Jaejoong juga menikah, Kibum beserta sang ibu membangun sebuah rumah makan kecil di Austria. Mereka semuanya bahagia. Rasa hangat seperti matahari musim semi.

 

Namun siapa yang menyangka jika itu adalah tahun terakhir mereka menghabiskan kebahagiaan bersama Kyuhyun. Lelaki itu menderita gagar otak akibat luka yang pernah diterima ketika masih kecil. Siwon ingat, dulu dia, Kibum dan Kyuhyun pernah bermain petak umpet di sebuah rumah tak berpenghuni yang sudah keropos. Tidak disangka kayu penyangga rumah itu lapuk dan patah, dan hampir menimpa dirinya kalau saja saat itu Kyuhyun tidak segera mendorong tubuhnya dan Kibum.

 

Rasanya masih seperti mimpi bagi Siwon, bahwa suatu hari dia pernah berharap bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Kyuhyun.
.
‚ÄúUgh~‚ÄĚ bocah bernama Kyuhyun itu melenguh. Matanya mengerjap perlahan, kemudian pandangannya tertumbuk di kursi mobil di sampingnya. Ia melihat sosok berpakaian serba putih itu duduk dengan memandang kedua orangtuanya.

 

‚ÄėSstt!‚Äô sosok itu mendesit dan meletakkan telunjuk di depan bibirnya, memberi isyarat agar tidak berisik.

 

Sosok itu—Cho Kyuhyun, memandang Siwon dengan tatapan lembut. ‚ÄėSuatu hari‚Äô yang pernah ia impikan sudah terwujud. Melewatkan musim panas dua kali bersama Siwon, duduk di bibir pantai sembari menikmati detik-detik senja yang hampir berakhir, kemudian berbahagia.

 

Tidak ada lagi yang Kyuhyun inginkan. Dia telah bahagia, maka Siwon pun berhak untuk bahagia meski tidak bersamanya.

 

Mobil itu berhenti di depan sebuah mansion yang cukup mewah. Siwon segera mengangkat tubuh putranya dalam gendongan, tapi sebelum masuk kerumah, dia memutar tubuhnya sekilas. Bibir tipisnya tersenyum saat itu ketika melihat Kyuhyun-nya juga tersenyum dengan damai.

 

Setidaknya dalam sebuah kisah, ia pernah menjadi seorang Raja, dan anak laki-laki lain menjadi Ratunya. Sebuah kisah yang ‚ÄėHappy Ending‚Äô jika kau mau membuka mata, bahwa akhir bahagia bukan hanya tentang kedua tokoh utama yang bersatu. Bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana kau bernapas hari ini, esok, dan esoknya lagi.
.
.

Someday was Ending ^^

.
.

a/n: Terima kasih sudah mampir di rumah saya yang sederhana ini. Terima kasih untuk kalian yang sejak awal sudah betah menemani saya menjaganya. Saya tidak akan ada tanpa kalian semua ūüôā
Arigato gozaimasu. Sayonara~

‚Äė

Someday – 3

Tampak kedua anak laki-laki menyusuri lorong sebuah penginapan bergaya khas Jepang, dengan pintu gesek dan terbuat dari kertas khusus, membuat sebagian cahaya tampak samar-samar berwarna kuning-jingga. Keduanya terlihat  cukup kesulitan memapah seseorang yang memiliki tubuh lebih besar dibanding Kyuhyun dan Kim Soohyun, sahabatnya. Ketika sudah sampai pada sebuah pintu kamar, dengan cukup kesulitan kedua pemuda yang bersahabat itu membaringkan tubuh yang sudah terkulai lemas akibat mabuk.

 

‚ÄúHuft~!¬†Dia¬†sangat¬†berat!‚Ä̬†keluh¬†Kim¬†Soohyun,¬†sembari¬†menyeka¬†bulir¬†keringat¬†yang¬†hampir¬†memenuhi¬†wajah¬†lucunya¬†dengan¬†bibir¬†mengerucut¬†dan¬†pipi¬†yang¬†mengembung.

 

‚ÄúSoohyun-ah,¬†gomapta.¬†Aku¬†akan¬†membayar¬†biaya¬†sewanya¬†nanti.‚ÄĚ

 

‚ÄúAish!¬†Kau¬†tidak¬†perlu¬†memikirkan¬†itu.¬†Yang¬†penting¬†istirahatlah,¬†dan¬†nanti¬†aku¬†akan¬†meminta¬†seorang¬†pelayan¬†dari¬†dapur¬†untuk¬†mengantar¬†makanan¬†dan¬†air¬†hangat¬†kemari.¬†Jangan¬†sungkan¬†padaku,¬†Kyuhyun-ah.¬†Kita¬†satu¬†Negara,¬†aniya?‚ÄĚ

 

Kyuhyun membungkukkan tubuhnya beberapa kali. Dia merasa sangat tertolong kali ini, sebab mustahil ia pulang dengan menggeret tubuh Siwon yang berukuran sedikit lebih besar dari tubuhnya kerumah. Apa lagi ini hampir tengah malam, dan Kyuhyun sedikit ngeri jika nanti mereka terjadi sesuatu di jalan. Dicegat preman misalnya, Kyuhyun tidak ingin ambil resiko. Pemuda itu menghela napas beberapa kali karena lelah, kemudian menoleh kearah Siwon yang sempat melenguh.

 

Perlahan Kyuhyun melepas jaket Siwon melihat sahabatnya itu berkeringat banyak, namun baru saja dia akan melepas kaos yang dikenakan Siwon, tubuhnya justru terjerembab jatuh dengan intensitas jarak yang hanya beberapa senti dari wajah Siwon, dan jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Melihat wajah tampan pria itu dengan sekedat ini membuat pipi bulatnya bersemu.

 

Siwon¬†semakin¬†erat¬†memeluk¬†pinggang¬†Kyuhyun¬†dan¬†matanya¬†mulai¬†terbuka¬†sedikit,¬†menatap¬†sayu¬†wajah¬†manis¬†di¬†depannya¬†lantas¬†tersenyum¬†sembari¬†bergumam,¬†‚ÄúKyuhyun-ah‚Ķ‚ÄĚ

 

Kyuhyun¬†yang¬†mengira¬†Siwon¬†sudah¬†cukup¬†sadar,¬†balas¬†tersenyum.¬†‚ÄúNde?‚ÄĚ

 

Namun didetik berikutnya, ketika bulan tampak malu-malu pada dua sosok yang bergumul dibawah selimut yang sama. Ketika hanya ada debur ombak dan desah halus yang begitu lepas menemani satu malam yang terasa begitu cepat. Satu malam yang membuat sebuah rasa dimasa lalu kembali hadir, lalu mengikis rasa lainnya dengan cepat.

 

Rasa itu tidaklah egois, karena dia hanya kembali pada tahtanya. Pada hati dimana singgasana itu seutuhnya milik Si Cinta yang semula pergi entah kemana. Ketika sepasang senyum itu terus menemani hingga malam hari itu habis, mendatangkan fajar dan membuat rasa yang baru saja berpulang kembali menjadi yang terbuang.

.

Siwon merasa menjadi makhluk paling hina dan tidak termaafkan ketika dia mengabaikan sebuah tatapan mengiba dari Kyuhyun yang tidak hentinya dipukuli Tuan Kim, Ayah Kibum. Dia sendiripun tidak tahu harus berbuat apa ketika pagi itu terbangun dengan keadaan tak lazim pada sekitar serta kepala yang berdenyut nyeri. Namun ketika dia menyadari semuanya, itu hanya berakhir pada sebuah penyesalan yang tidak berkesudahan.

 

Siwon mengutuk diri sendiri yang tidak bisa berbuat apapun untuk menolong Kyuhyun yang terus menangis saat itu. Dia yang brengsek. Dia yang tidak seharusnya dimaafkan. Namun apa daya, dia terlalu pengecut untuk mengulurkan tangan ataupun sekedar melempar senyum kasihan pada sosok rapuh dimatanya. Kalimat maafpun hanya bisa terucap dalam hatinya selama lima tahun ini.

 

Yang menyedihkan dalam kisah ini bukanlah Kyuhyun, melainkan dirinya sendiri. Hidup dalam penyesalan. Terkungkung pada kerangkeng emas yang perlahan membunuh hatinya.

.

Aku¬†sudah¬†lelah¬†menjadi¬†pihak¬†yang¬†terus¬†menggenggam¬†tanganmu¬†dengan¬†sangat¬†erat¬†hingga¬†rasanya¬†tanganku¬†sendiri¬†kaku.¬†Aku¬†ingin¬†melepaskannya¬†sekarang…
Itu¬†yang¬†kupikirkan¬†selama¬†ini.¬†Tapi¬†sekarang¬†aku¬†sadar,¬†bukan¬†tanganmu¬†yang¬†ingin¬†kulepaskan…¬†namun¬†aku¬†yang¬†selalu¬†berharap¬†agar¬†kau¬†jangan¬†pernah¬†melepas¬†genggamanmu¬†pada¬†tanganku…¬†Egoiskah…?”

.

Seoul—

 

Pria itu berlari dengan tergesa ketika baru saja mendapat kabar mengejutkan tentang Kibum. Dia yang sedang dalam perjalanan menuju Incheon Airport harus kembali memutar arah dan sampai di Rumah Sakit secepat mungkin.

 

Saat dia tiba didepan sebuah pintu, Siwon langsung menghampiri Ayah Kibum yang hanya sendiri di sana, berdiri di depan ruang operasi anaknya.

 

‚ÄúAhjussi,¬†bagaimana¬†ini¬†bisa¬†terjadi?‚Ä̬†Siwon¬†bertanya¬†cepat¬†hanya¬†dalam¬†setarik¬†napas.

 

Tuan¬†Kim¬†terlihat¬†begitu¬†kusut¬†dan¬†dia¬†menjatuhkan¬†tubuhnya¬†di¬†depan¬†Siwon¬†yang¬†terperanjat¬†melihatnya.¬†‚ÄúKibum‚Ķ¬†berpikir¬†kalau¬†kau¬†akan¬†meninggalkannya¬†demi¬†laki-laki¬†itu‚Ķ‚ÄĚ,¬†airmata¬†mulai¬†membasahi¬†pipi¬†yang¬†hampir¬†keriput¬†Ayah¬†Kibum.¬†‚ÄúKibum¬†menabrakkan¬†diri¬†pada¬†pembatas¬†jalan,¬†Siwon-ah‚Ķ‚ÄĚ

 

Siwon tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tidak habis pikir kalau lelaki itu bisa berbuat nekat yang bisa saja membunuh dirinya sendiri, atau mungkin memang berniat bunuh diri. Siwon tidak ingin menyimpulkan apapun. Kepalanya sakit sejak kemarin karena jadwal pekerjaan yang penuh dan penat. Sekarang ditambah dengan sikap Kibum yang terkesan posesif, membuat pelipis Siwon sering kali berkedut.

 

‚ÄúAhjussi¬†mohon,¬†Siwon-ah‚Ķ¬†Setelah¬†ini,¬†cintailah¬†Kibum‚Ķ¬†putra¬†Ahjussi¬†hanya¬†dia‚Ķ¬†hanya¬†ini¬†satu¬†permintaan¬†seumur¬†hidup¬†Ahjussi¬†padamu‚Ķ¬†Jangan¬†pernah¬†tinggalkan¬†Kibum¬†apapun¬†yang¬†terjadi‚Ķ¬†dia¬†mencintaimu,¬†Siwon-ah‚Ķ‚ÄĚ

 

Siwon tampak linglung melihat Ayah Kibum bersujud didepannya. Saat itu dia hanya bisa mengangguk bagai boneka, tanpa menyadari sebuah seringaian puas atas jawaban yang dia berikan.

.

Siwon memasuki ruang inap Kibum, setelah dua hari yang lalu dia dipindah ruang oleh pihak rumah sakit setelah masa kritisnya lewat. Siwon tersenyum melihat Kibum juga membalas senyum dengan bibir yang masih pucat.

 

‚ÄúBagaimana¬†keadaanmu?¬†Sudah¬†sedikit¬†membaik?‚ÄĚ

 

Kibum hanya mengangguk karena dia masih sulit untuk mengeluarkan suaranya. Sejak kecelakaan yang dia alami, membuat paru-paru Kibum melemah karena mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan diatas jembatan yang menaungi Sungai Han. Kibum tenggalam hingga air sungai hampir memenuhi ruang paru-parunya dan bisa menyebabkan kematian jika sedikit saja dia terlambat diselamatkan.

 

Siwon mengelus tangan kurus Kibum. Semilir angin menerbangkan gorden putih rumah sakit. Dia sudah berjanji akan setia menemani Kibum hingga lelaki itu sembuh. Mengabaikan perasaan lain yang awalnya dia jaga dengan sangat baik. Percuma juga kalau ia ingin menentang, kejadian dimasa lalu ibarat aib bagi keluarganya yang merasa malu dengan keluarga Kim. Hanya dia yang malah dituntut untuk berkorban menebus aib itu, meski sebenarnya justru dia salah satu yang menjadi korban.

.

.

Okinawa,¬†Jepang—

 

Siwon mendudukkan Kibum kedalam mobilnya dengan hati-hati. Kibum masih saja terisak dan ini membuatnya sedikit ngilu di dadanya. Dia menyayangi Kibum. Meski ada kesalahan dimasa lalu, namun dia, Kibum dan Kyuhyun adalah sahabat baik sejak kecil. Mereka sering berbagi permen dan sering tidur bersama. Siwon menyayangi Kibum, tapi hanya sebatas sahabat. Meski dia sudah berusaha, tetap saja menghasilkan nihil dan terus membuatnya kembali mengakui bahwa pemilik hatinya bukanlah Kibum.

 

‚ÄúKibummie,¬†tenanglah‚Ķ¬†Kau¬†bisa¬†memperburuk¬†kesehatanmu‚Ķ‚ÄĚ

 

Hahk!

 

Baru saja Siwon menyelesaikan kalimatnya, Kibum mulai menegang dengan tangan yang meremat baju bagian dada. Rautnya menampakkan kesakitan, dan tubuhnya berjengat karena sulit menarik napas.

 

Tanpa pikir panjang, Siwon segera melajukan mobilnya secepat mungkin agar sampai di rumah sakit terdekat. Sampai-sampai dia tidak lagi melihat sosok yang berdiri di sisi jalan yang dia lewati, di bawah pohon rindang yang gemerisik sendu.

.

Kyuhyun biarkan dirinya menjadi cengeng kembali. Membiarkan airmatanya mengalir tanpa henti melihat Siwon dan Kibum pergi dari hadapannya dengan cepat. Rasa sakit yang kembali bersemayam dalam dada membuat dirinya menolak untuk manghapus tiap-tiap bulir yang mengalir.

 

‚ÄúKyuhyun?¬†Aku¬†mencarimu—‚Äú¬†Yunho¬†menghentikan¬†kalimatnya¬†ketika¬†melihat¬†lelaki¬†di¬†depannya¬†tengah¬†berdiri¬†kaku¬†dengan¬†pandangan¬†kosong¬†dan¬†wajah¬†yang¬†basah.¬†Yunho¬†langsung¬†menarik¬†tangan¬†pemuda¬†itu¬†dan¬†memeluknya¬†dengan¬†sangat¬†erat.¬†Membiarkan¬†tangis¬†Kyuhyun¬†membasahi¬†baju¬†yang¬†dia¬†kenakan.

 

Sesekali pria itu mengelusi rambut ikal Kyuhyun dan mengecupi pelipisnya sembari mengucapkan kalimat penenang beberapa kali.

 

‚ÄúTidak¬†apa-apa,¬†Kyuhyun-ah‚Ķ¬†menangislah‚Ķ‚ÄĚ

 

Sedetik kemudian, Kyuhyun meremat kaos yang Yunho pakai sebagai pelampiasan rasa sakit di hatinya. Ini terlalu menyakitkan jika ditanggung seorang diri. Dia mencintai Siwon. Sangat. Meski tidak pernah jujur pada siapapun, dan menyimpannya seorang diri, namun Kyuhyun akan sabar dengan perasaan yang dia titipkan pada orang lain itu.

 

Dulu dia berpikir kalau kalimat manis yang pernah Siwon katakan padanya disuatu malam adalah nyata adanya. Namun dirinya kembali harus ditampar agar sadar bahwa ketika itu Siwon tengah mabuk berat. Bodohnya dia yang terbuai dengan sentuhan intim memabukkan dari Siwon, namun pada kenyataannya, Siwon sedang tidak sadar saat menyentuhnya.

 

Kyuhyun harusnya membuang jauh-jauh perasaan yang perlahan menggerogoti hatinya yang rapuh.

.

Kibum berjalan menyusuri koridor rumah sakit masih dengan pakaian pasien  dan sesekali berpapasan dengan beberapa suster yang memintanya untuk kembali kekamar, tapi Kibum menolak dengan halus dan tetap berjalan. Dia benar-benar bosan jika sepanjang hari hanya dihabiskan tidur di atas bangsalnya. Tubuhnya juga terasa pegal-pegal karena sejak dia masuk rumah sakit, keluarga dan juga Siwon tidak mengizinkannya untuk berdiri ataupun berjalan kecuali jika dia ingin ke toilet.

 

‚ÄúBukankah¬†harusnya¬†orang¬†sakit¬†itu¬†berbaring¬†di¬†ranjangnya,¬†Kibummie?‚ÄĚ

 

Lelaki itu menghentikan langkahnya mendadak saat mendengar seseorang berbicara di belakangnya. Perlahan dia putar badannya dan melihat, siapa yang berbicara barusan. Bola matanya seketika membulat melihat seorang pria berperawakan cukup ramping dengan rambut almond yang ditata dengan rapi, berdiri bersebrangan darinya. Sebuket bunga lili dan sebuah kotak cake ditangannya, membuat Kibum ingin kembali merasakan rasa cake dan aroma bunga yang dibawanya. Dua hal yang di sukai oleh orang yang berdiri dihadapannya.

 

‚ÄúH-hyung‚Ķ‚Ä̬†Kibum¬†terbata.¬†Dan¬†pria¬†di¬†hadapannya¬†tersenyum.

.

Pria di depan Kibum menyeruput kopi hitamnya pelan-pelan, sedangkan Kibum hanya melihat sosok yang sudah lama sekali tidak dia lihat. Sosok yang dia kenal sebagai seorang kakak laki-laki yang hangat. Rasanya waktu berlalu sangat lama dalam perpisahan itu, hingga Kibum hampir lupa jika dia masih memiliki figure seorang kakak dalam keluarga Kim.

 

Kini meraka sedang duduk di kantin rumah sakit yang terletak di lantai dasar.

 

‚ÄúHyung,¬†sudah¬†lama‚Ķ‚ÄĚ

 

‚ÄúNe,¬†memang¬†sudah¬†lama.‚Ä̬†Potong¬†pria¬†itu¬†cepat.¬†‚ÄúKau¬†juga¬†tidak¬†banyak¬†berubah,¬†Kibummie‚Ķ¬†masihkah¬†kau¬†menjadi¬†boneka¬†Ayah?‚ÄĚ

 

‚ÄúHyung!‚ÄĚ

 

‚ÄúJangan¬†marah.¬†Orang¬†yang¬†sedang¬†sakit¬†harusnya¬†tetap¬†berbaring¬†di¬†ranjang¬†empuknya.¬†Bukan¬†malah¬†berjalan¬†seorang¬†diri¬†seperti¬†tadi.‚Ä̬†Pria¬†yang¬†Kibum¬†panggil¬†‚ÄėHyung‚Äô¬†tampak¬†begitu¬†santai¬†dengan¬†nada¬†ucapannya¬†barusan.

 

‚ÄúHyung,¬†tidakkah¬†kau¬†ingin¬†pulang?‚Ä̬†Kibum¬†menatap¬†takut-takut¬†wajah¬†rupawan¬†di¬†depannya.

 

‚ÄúHuh?¬†Aku¬†tidak¬†salah¬†dengar?¬†Selama¬†ini¬†tentu¬†aku¬†selalu¬†pulang¬†kerumah,¬†Kibummie‚Ķ‚ÄĚ

 

‚ÄúMaksudku‚Ķ¬†rumah¬†yang¬†sesungguhnya.¬†Umma¬†selama¬†ini¬†sangat¬†mencemaskanmu,¬†Hyung.¬†11¬†tahun¬†kau¬†pergi¬†meninggalkan¬†kami‚Ķ‚ÄĚ

 

‚ÄúBukan¬†aku¬†yang¬†meninggalkan¬†kalian,¬†justru¬†seorang¬†pria¬†yang¬†kita¬†sebut¬†‚ÄėAyah‚Äôlah¬†yang¬†membuatku¬†serasa¬†di¬†neraka¬†jika¬†tetap¬†berada¬†di¬†sana.¬†Aku¬†manusia¬†yang¬†bebas,¬†Kibummie.¬†Aku¬†memutuskan¬†pergi¬†bukan¬†hanya¬†karena¬†cinta,¬†tapi¬†karena¬†aku¬†tidak¬†ingin¬†terus¬†menjadi¬†boneka¬†yang¬†dimainkan¬†oleh¬†Ayah.‚ÄĚ

 

Kibum menundukkan wajahnya. Dia selalu dibuat tidak berkutik oleh Hyung-nya. Meski pria itu orang yang selama ini dia kagumi, namun akan menjadi berbeda jika sudah berselilih paham. Puncaknya adalah ketika sang kakak dipaksa untuk menikahi salah satu putra dari keluarga Choi.

 

Kakaknya langsung menentang dan pergi meninggalkannya yang saat itu masih berusia 10 tahun, membuatnya menjadi putra tunggal dikeluarga Kim yang mengharuskannya sempurna dalam hal apapun.

 

‚ÄúKau¬†juga¬†bebas,¬†Kibum-ah.‚ÄĚ

 

Lelaki¬†itu¬†kembali¬†mengangkat¬†wajahnya¬†dan¬†memandang¬†bingung¬†pria¬†yang¬†saat¬†ini¬†sedang¬†tersenyum¬†kecil.¬†‚ÄúKau¬†berhak¬†untuk¬†memutuskan¬†tali¬†buatan¬†Ayah¬†yang¬†mengikat¬†pada¬†tangan¬†dan¬†kakimu.¬†Kau¬†masih¬†manusia,¬†Kibum.¬†Kau¬†bisa¬†lari¬†dari¬†panggung¬†boneka¬†yang¬†dibangun¬†Ayah,¬†kemudian¬†mendapatkan¬†kebahagiaannmu¬†sendiri¬†tanpa¬†perlu¬†memerankan¬†sosok¬†antagonis¬†dalam¬†kisah¬†orang¬†lain.‚ÄĚ

 

Kibum benar-benar kehabisan kata-kata mendengar tiap ucapan kakaknya yang seperti menggoreskan sayatan pada luka yang hampir sembuh.

.

.

Siwon mengenakan setelan jas hitamnya dengan rapi. Wajah tampannya terlihat semakin gagah ketika penata rambut mulai menyisir pelan surai hitamnya. Siwon mengamati dirinya yang terpantul di cermin ruang hias.

 

Rasanya seperti dalam mimpi dia bisa sampai pada saat seperti sekarang. Akan melangsungkan sebuah pernikahan di sebuah gereja yang tidak begitu mewah, di kota Okinawa. Perasaannya bercampur aduk tidak menentu. Seperti gelisah dan jantungnya juga berdebar tidak berirama seperti biasa.

 

Namun berkali-kali dia menghirup dan menghembuskan napasnya dengan pelan lalu meyakinkan pada hatinya sendiri kalau ini adalah hal yang wajar  terjadi ketika seorang pria akan menikah. Bukan hanya dirinya saja, tapi orang lain juga merasakan hal yang sama.

.

Menikah.

 

Harusnya sumpah sakral yang terucap di altar adalah suci. Tapi kenapa malah mendatangkan kegelisahan lain pada diri Siwon. Dia berdiri di altar lebih dulu, menanti kehadiran pengantin pasangannya yang perlahan digiring agar berdiri di sampingnya.

 

Siwon tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya sekarang. Dia benar-benar merasa gelisah sejak pagi tadi. Seolah dia tidak pernah siap untuk mengucap janji suci sekarang. Rasa gugup membuatnya sulit berpikir dengan baik.

 

‚ÄúSebelum¬†saya¬†melanjutkan¬†prosesi¬†pernikahan¬†dan¬†pemanjatan¬†sumpah¬†setia¬†pengantin,¬†ada¬†baiknya¬†saya¬†bertanya¬†agar¬†ketika¬†acara¬†nanti¬†bisa¬†berlangsung¬†dengan¬†khidmat.¬†Adakah¬†yang¬†ingin¬†menentang¬†pernikahan¬†ini?‚ÄĚ

 

Ucapan sang pastur barusan membuat sedikit kericuhan akibat bisik-bisik beberapa tamu undangan yang menduduki kursi masing-masing.

 

‚ÄúSekali¬†lagi¬†saya¬†bertanya,¬†tidak¬†adakah¬†yang¬†keberatan¬†jika¬†pernikahan¬†ini¬†dilangsungkan?‚ÄĚ

 

Perlahan, seseorang mengangkat tangannya dan akibatnya kericuhan semakin membesar. Suara yang berbisik semakin menguat dan mengundang amarah Tuan Kim yang sudah geram sejak sang pastur seolah mengulur waktu.

 

‚ÄúLanjutkan¬†saja¬†pernikahan¬†ini!‚ÄĚ

 

‚ÄúAku¬†menentang!‚ÄĚ

 

‚ÄúKim¬†Kibum!‚ÄĚ

 

‚ÄúKibummie‚Ķ?‚ÄĚ

 

Suara yang berbeda itu saling bersahutan, menimbulkan grasak-grusuk dari tamu undangan. Tuan Choi yang merasa risih akhirnya berdiri.

 

‚ÄúBisa¬†kau¬†jelaskan¬†apa¬†maksud¬†dari¬†tindakanmu,¬†Kibum?¬†Bukankah¬†ini¬†yang¬†kau¬†harapkan?¬†Menikah¬†dengan¬†Siwon?‚ÄĚ

 

Kibum—orang¬†yang¬†mengangkat¬†tangan¬†sebagai¬†bentuk¬†bantahan¬†akan¬†pernikahannya¬†sendiri—¬†berbalik¬†dan¬†menatap¬†lurus¬†seorang¬†pria¬†seusia¬†ayahnya.¬†Dia¬†membungkuk¬†hormat,¬†‚ÄúMaafkan¬†kelancangan¬†dan¬†ketidaksopananku,Choi¬†¬†Aboeji.¬†Tapi¬†aku¬†tidak¬†bisa¬†meneruskan¬†pernikahan¬†ini‚Ķ‚ÄĚ

 

Satu per satu tamu undangan yang merasa terhina pergi meninggalkan kursi mereka, dan akhirnya menyisakan para keluarga yang sedang berseteru dengan alasan yang masih samar.

 

‚ÄúKibummie,¬†sebenarnya¬†apa¬†yang¬†terjadi¬†padamu,¬†heum?‚ÄĚ

 

Kali¬†ini¬†Kibum¬†berbalik¬†memandang¬†pria¬†tampan¬†yang¬†telah¬†membuatnya¬†jatuh¬†cinta¬†selama¬†lima¬†tahun¬†ini.¬†Dia¬†tersenyum¬†miris,¬†‚ÄúSekuat¬†apapun¬†aku¬†memeluk¬†tubuhmu‚Ķ¬†Tapi¬†yang¬†disini—‚Äú¬†Kibum¬†menunjuk¬†dada¬†Siwon,¬†‚Äú—tetap¬†milik¬†Kyuhyun,¬†iya,¬†kan,¬†Siwonnie?‚ÄĚ

 

‚ÄúEh?‚ÄĚ

 

Kali¬†ini¬†Kibum¬†tersenyum¬†lebih¬†tulus,¬†‚ÄúAku¬†tidak¬†ingin¬†menikah¬†dengan¬†orang¬†yang¬†tidak¬†mencintaiku‚Ķ¬†Pergilah!¬†Temui¬†cintamu.‚ÄĚ

.

‚ÄúHah‚Ķ¬†hah‚Ķ¬†hah‚Ķ‚Ä̬†Siwon¬†berlari¬†sekuat¬†dan¬†secepat¬†yang¬†dia¬†bisa¬†ketika¬†Kibum¬†memberi¬†tahu¬†dimana¬†tempat¬†hati¬†yang¬†dia¬†genggam¬†selama¬†ini.¬†Keringat¬†dengan¬†deras¬†mengucuri¬†wajah¬†serta¬†tubuhnya.¬†Namun¬†bibir¬†tipisnya¬†masih¬†belum¬†melunturkan¬†senyum¬†lebarnya.

 

Rasanya ada sesuatu yang membuncah keluar dan menggelitiki tiap-tiap dinding dalam dadanya. Geli dan juga menyenangkan. Kepalanya penuh dengan tiap lembar roll ingatan demi ingatan yang berputar layaknya pemutar film klasik. Menampilkan semua memori tentangnya dan seseorang yang sudah memiliki tahta dalam hatinya sejak lama. Cho Kyuhyun. Bahkan hanya dengan mengingat namanya saja sudah membuat Siwon bahagia tak terkira.

 

Haah! Dasar Siwon bodoh! Untuk apa kau menjadi anak orang kaya yang memiliki begitu banyak mobil mewah, tapi ketika kau akan menjemput kekasih hatimu justru berlari seperti orang gila seperti sekarang, huh?! Cinta memang gila!

.

PLAK!

 

Kibum memejamkan matanya ketika satu tamparan barusan membuat sudut bibirnya pecah. Dia menyeka sedikit darah yang menetes dari sana, kemudian tersenyum aneh.

 

‚ÄúApa¬†kau¬†masih¬†belum¬†puas¬†mempermalukan¬†keluarga¬†kita?!‚ÄĚ

 

‚ÄúSetidaknya¬†Hyung¬†membuatku¬†sadar¬†kalau¬†yang¬†Appa¬†lakukan¬†bukan¬†untuk¬†kebahagiaanku,¬†tapi¬†kebahagiaan¬†Appa¬†sendiri!‚ÄĚ

 

‚ÄúKi-Kibummie,¬†kau¬†bertemu¬†Hyung-mu?¬†Ji-jinjja?¬†A-apa¬†dia¬†sehat?¬†Dimana¬†kau¬†bertemu¬†dengannya?‚Ä̬†Nyonya¬†Kim¬†langsung¬†menghampiri¬†putra¬†bungsunya¬†dengan¬†lelehan¬†airmata¬†sejak¬†pulang¬†dari¬†gereja¬†tadi.

 

‚ÄúHyung¬†baik-baik¬†saja,¬†Umma.¬†Dia¬†juga¬†sangat¬†merindukan¬†Umma‚Ķ‚ÄĚ

 

‚ÄúOh¬†putraku‚Ķ¬†hiks‚Ķ‚ÄĚ

 

‚ÄúJangan¬†pernah¬†mengungkit¬†dia¬†dihadapanku!‚ÄĚ

 

‚ÄúYe-yeobo-ya‚Ķ¬†dia¬†tetap¬†putra¬†kita‚Ķ¬†darah¬†dagingmu‚Ķ¬†apa¬†kau¬†tidak¬†bisa¬†memaafkannya‚Ķ?‚ÄĚ

 

‚ÄúTIDAK!¬†Dia¬†sudah¬†mencoreng¬†nama¬†keluarga!¬†Dan¬†sekarang,¬†dia¬†meracuni¬†pikiran¬†Kibum¬†untuk¬†ikut¬†membangkang¬†padaku!!‚ÄĚ

 

‚ÄúHuh?¬†Ternyata¬†benar¬†apa¬†yang¬†Hyung¬†katakan,¬†kalau¬†yang¬†Appa¬†lakukan¬†hanya¬†demi¬†NAMA¬†KELUARGA!‚ÄĚ

 

Plak!!

 

‚ÄúJaga¬†bicaramu,¬†Kim¬†Kibum!‚ÄĚ

 

‚ÄúHaha‚Ķ‚Ä̬†Kibum¬†mundur¬†beberapa¬†langkah¬†¬†sambil¬†memegangi¬†pipinya¬†yang¬†tampak¬†membengkak¬†merah.¬†Dia¬†kembali¬†berpikir,¬†bagaimana¬†rasa¬†sakit¬†yang¬†Kyuhyun¬†rasakan¬†dulu?¬†Menerima¬†tamparan¬†serta¬†pukulan¬†Appa-nya¬†bertubi-tubi.

 

‚ÄúKalau¬†saja¬†dulu¬†aku¬†mengkuti¬†Hyung,¬†setidaknya¬†aku¬†tidak¬†akan¬†merasa¬†sangat¬†dikecewakan¬†oleh¬†Appa-ku¬†sendiri.¬†Terlebih¬†ketika¬†tahu¬†bahwa¬†dalang¬†dari¬†orang¬†yang¬†hampir¬†membunuhku¬†lima¬†tahun¬†lalu¬†adalah¬†pria¬†yang¬†sudah¬†begitu¬†kuhormati.‚ÄĚ

 

Tuan Kim mendelik. Dan itu justru membuat Kibum menyeringai.

 

‚ÄúApakah¬†ucapanku¬†benar,¬†Appa?¬†Bahwa¬†memang¬†kaulah¬†yang¬†dulu¬†merusak¬†mobil¬†yang¬†kukendarai¬†sehingga¬†aku¬†mengalami¬†kecelakaan?‚ÄĚ

 

Setelahnya, Kibum langsung berlari menuju kamar dan mengabaikan teriakan dari Appa-nya. Dia benar-benar tidak habis pikir bahwa Ayah yang selama ini begitu dia hormati justru menggunakan cara-cara licik demi tujuannya.

 

‚ÄúYe-yeobo-ya‚Ķ¬†kenapa?¬†Hiks‚Ķ¬†kenapa¬†kau¬†menghancurkan¬†keluarga¬†demi¬†ambisimu?‚ÄĚ

 

‚ÄúKarena¬†sejak¬†awal¬†aku¬†tidak¬†pernah¬†mencintaimu,¬†Park¬†Hyejin.‚Ä̬†Tuan¬†Kim¬†sama¬†sekali¬†tidak¬†bergerak¬†ataupun¬†menatap¬†istirnya¬†yang¬†sudah¬†berderai¬†air¬†mata.

 

Airmata¬†wanita¬†yang¬†berada¬†di¬†hadapan¬†Tuan¬†Kim¬†berhenti,¬†lantas¬†menatap¬†terkejut¬†suaminya.¬†‚ÄúA-apa¬†maksudmu?‚ÄĚ

 

‚ÄúMaafkan¬†aku,¬†Hyejin-ah,¬†sejak¬†dulu¬†hingga¬†kini,¬†rasa¬†cintaku¬†untuk¬†Hyuna¬†tidak¬†pernah¬†berubah.¬†Aku¬†terpaksa¬†menikahimu¬†karena¬†hutang¬†budi¬†keluargaku¬†pada¬†keluargamu.‚ÄĚ

 

Setelahnya Tuan Kim beranjak meninggalkan istirnya yang terduduk lemas sembari menangisi nasip dari keluarga yang selama ini ia impikan, tanpa berbalik sedikitpun hanya sekedar untuk melihat sang istri yang sesungukan.

 

Nyonya Kim terus menangis untuk beberapa saat, mengingat betapa sakit hatinya kini, bahwa sekuat apapun usahanya tetap tidak bisa membuat sang suami berbalik mencintainya. Sungguh bodoh dirinya yang terus berharap, meski pada akhirnya cinta sang suami tetap untuk wanita lain yang sudah dimiliki oleh orang lain.

 

 

 

Tears In Pink Rain – 2

10154090_1445744805665080_6346301057580644600_n

.

Suasana khidmat pada sebuah gereja tidak menyurutkan degup jantung seorang wanita si pemeran utama dalam pernikahan hari ini. Wajah cantiknya semakin cantik dengan polesan bedak serta blush-on, bibir kecilnya dilapisi lipstick berwarna peach. Dia tidak berhenti tersenyum sejak digiring oleh Ayahnya menuju altar pernikahan, di samping seorang pria tampan dan juga di hadapan seorang pastur yang usianya sudah cukup tua.

Wanita itu semakin tersenyum malu ketika pujian-pujian yang dipanjatkan pada Sang Kristus akan berakhir, dilanjutkan oleh janji pengantin, kemudian saling menyematkan cincin dan diakhiri dengan ciuman singkat yang menjadi sarat sahnya sebuah pernikahan.

Dan kali ini dia berada pada saat penyematan sepasang cincin pengantin. Omo, jantungnya semakin berdetak cepat. Rasanya begitu malu ketika ada sepasang mata yang menatap teduh sembari menggenggam tangan yang terbalut kain tipis sarung tangan , hendak menyematkan sebuah cincin polos kejari manisnya. Wanita itu serasa ingin mencair saja saking gugupnya.

Perlahan, cincin polos itu melewati sebuah ruas kosong dan sampai pada ujung jari. Senyum sang wanita sedikit luruh karena sadar jika cincin yang melingkar itu kebesaran di jarinya. Pengantin pria di hadapannya juga menampakkan wajah yang cukup terkejut. Tapi buru-buru dia kembali tersenyum manis agar tidak ada yang menyadari apa yang terjadi pada cincin pengantinnya. Wanita itu mengambil cincin satu lagi, lantas menyelipkannya diantara ruas jari si pengantin pria.

Ketika kedua belah bibir yang berbeda itu bertemu, suara riuh tepuk tangan mengiringi euphoria bahagia yang tak sempat diuraikan oleh sepasang pengantin disiang hari itu.

Namun hanya si mempelai wanita yang tahu, ketika cium yang bertemu itu ibarat sebuah jarum yang menusuk tepat diulu hatinya saat melihat setetes cairan bening jatuh dari sudut mata pasangannya.

 

.
Tears In Pink Rain. II
.
WonKyu

 

Kyuhyun sedikit mengulet saat sinar siang mengganggunya untuk sesegera mungkin bangun. Alisnya mengkerut kesal, namun beberapa detik kemudian kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang iris kecokelatan yang tertidur beberapa jam yang lalu. Dia menyibak selimutnya, lantas bangun dan menuju jendela. Kembali menyibak gorden dan membuatnya reflex menutup mata saat cahaya terang dihari hampir siang itu lumayan terik.

Dilangkahkan kakinya pada balkon kamar apartemennya, merentangkan kedua tangan dan melakukan gerakan-gerakan ringan untuk merilekskan tubuhnya yang sempat kaku. Dia menghirup dalam oksigen dan menghembuskan karbondioksida secara perlahan.

Pagi yang sepi membuatnya kembali mengingat kenangan demi kenangan yang sudah lewat cukup lama, sejak dia memutuskan untuk hidup sendiri di Negara asing. Alisnya mengkerut jika mengingat kenangan satu itu. Ternyata selama ini dia sudah tertipu oleh rayu manis serta bual janji seseorang. Seunghyun tidak sebaik yang ia kira. Dia seumpama dengan Serigala berbulu Domba. Dan Kyuhyun muak dengan dirinya sendiri yang sudah tertipu dengan gampangnya.

Suatu malam, tiga tahun lalu dia benar-benar mengutuk seorang pria bernama Choi Seunghyun. Pria yang sudah membuatnya terbuai selama ini.

Ketika tahun awal dia hidup di Virginia bersama Seunghyun, Kyuhyun merasa menjadi lelaki paling beruntung karena pria bermarga Choi itu memperlakukannya seperti seorang perempuan, namun dia tidak keberatan. Dia suka ketika Seunghyun mengucap rayuan yang seharusnya ditujukan untuk wanita. Dia rela ketika Seunghyun menyentuhnya dengan perlahan namun semakin intim. Sampai puncaknya mereka bercinta beberapa kali, dan Kyuhyun tetap menyukai pria itu.

Namun itu hanya awal yang manis, sampai ketika dia menemukan klimaks pada ceritanya kali ini. Dia menemukan Seunghyun tengah bercumbu dengan seorang wanita berkebangsaan Russia, Alexandra Zakharov, rekan kerjanya sendiri di sebuah perusahaan asing.Kyuhyun hancur saat itu. Pria yang selama ini dia percayai dengan sangat justru berbalik menjadi pedang yang menusuk dirinya sendiri.

Kyuhyun semakin mengeratkan pegangan pada pagar besi balkon kamarnya sembari menggigit bibir bawah saat mengingat dialog perpisahannya dengan pria itu. Dia bahkan menampar lelaki itu dengan segala amarah dan rasa benci yang ada saat tahu alasan sesungguhnya Seunghyun mendekatinya selama ini.

‚ÄúKau pengkhianat! Aku membencimu, Choi Seunghyun!‚ÄĚ

‚ÄúAh, tamparanmu cukup menyakitkan juga, Kyuhyun.‚ÄĚ

‚ÄúWanita jalang, pergi dari sana!‚ÄĚ

‚ÄúKau tidak punya hak mengusirnya.‚ÄĚ

‚ÄúAku kekasihmu! Tentu punya hak‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúKekasih? Yang benar saja? Haha, kau percaya dengan ucapanku selama ini? Sungguh lucu sekali, Cho Kyuhyun.‚ÄĚ

‚ÄúM-mwo?‚ÄĚ

‚ÄúAku mendekatimu selama ini hanya untuk menyakiti Siwon. Aku seolah terlahir sebagai bayangan untuknya. Marga kami sama, tapi tidak dengan nasip kami berdua. Dia terlahir di keluarga yang kaya, sedangkan keluargaku, kami harus bekerja keras untuk sampai di titik yang tinggi. Sejak sekolah menengah hingga jenjang universitas, aku selalu bertemu dengannya. Dia selalu mendapatkan dengan mudah apa yang kuperjuangkan dengan susah payah. Setiap aku mencintai seseorang, maka orang itu akan mencintai Siwon. Aku muak dengannya!‚ÄĚ

‚ÄúKau‚ÄĒ‚Äú

‚ÄúAku berhasil merebutmu darinya. Aku menang kali ini dan membuatnya menjadi seseorang yang menyedihkan.‚ÄĚ

Saat itu Kyuhyun buru-buru mengemasi seluruh pakaiannya kedalam beberapa koper. Dia benar-benar sakit hati. Namun ucapan terakhir Seunghyun ketika dia hendak keluar dari rumah milik pria itu, Kyuhyun justru membenci dirinya sendiri.

‚ÄúSebelum pergi, Siwon mendatangiku dan memohon agar aku menjagamu. Sungguh ironis ketika yang dicintainya justru berkhianat!‚ÄĚ

Sungguh, Kyuhyun begitu ingin melempar Seunghyun dari lantai 30 agar langsung mati dan dia tidak lagi melihat pria itu hidup.

Tok. Tok. Tok

Suara ketukan pintu menyadadarkannya dari lamunan sesaat. Dia berbalik kemudian membuka pintu, dan tampaklah seorang gadis barat dengan rambut hitam sebahu berdiri dengan sepiring makanan.

‚ÄúMommy menyuruhku untuk mengantar sarapan.‚ÄĚ Ucap Bella, gadis belia berusia 12 tahun yang menempati kamar di sebelah kamar Kyuhyun.

‚ÄúAh, terima kasih. Aku selalu merepotkanmu dan Mommy-mu.‚ÄĚ Kyuhyun mengusap pelan puncak kepala gadis itu dan mempersilahkannya masuk sementara dia memindahkan makanan kepiringnya sendiri.

‚ÄúMommy tidak keberatan. Dia bilang seperti memiliki anak laki-laki.‚ÄĚ Bella duduk dikursi dengan kaki yang bergerak maju-mundur.

‚ÄúApa Will belum pulang?‚ÄĚ

Gadis itu menggeleng, ‚ÄúDaddy selalu sibuk bekerja, sampai Mommy sering marah.‚ÄĚ

Kyuhyun tersenyum. Dia berjalan menghampiri gadis itu dan duduk dikursi sebelahnya. ‚ÄúWilliam selama ini bekerja keras untukmu dan juga Mommy-mu, agar kalian bisa hidup dengan baik. Jadi kau jangan nakal.‚ÄĚ

‚ÄúAku tidak nakal kok!‚ÄĚ Bella membela diri dengan mengerucutkan bibirnya.

Kyuhyun tertawa. Rasanya sudah agak lama dia tidak tertawa selepas itu. 1 tahun? 2 tahun? Ah, dia lupa.
.

.
‚ÄúAh, kau sudah datang? Ada surat untukmu.‚ÄĚ Bernadette, wanita yang bekerja sebagai Manager Secretary menghampirinya yang baru saja tiba di bilik kerjanya.

Kyuhyun mengambil surat dan membukanya dengan penasaran. Selesai membaca, dia membulatkan matanya lantas memandang wanita cantik di depannya yang tersenyum kecil. Kyuhyun Shock.

‚ÄúSelamat, kau dipindah tugaskan ke cabang Seoul. Kau bisa mengemasi barangmu hari ini, dan bersiap untuk besok. Semua keperluanmu sudah diatur oleh perusahaan.‚ÄĚ

Kyuhyun hanya bisa mendengar penjelasan dari atasannya karena dia sendiri tidak tahu harus menjawab apalagi berekspresi seperti apa. Antara bahagia dan… dia tidak tahu rasa apa yang mengganjal sekarang.

Seoul‚ÄĒpikirannya lagi-lagi melalang jauh entah kemana.
.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya melihat sekeliling yang sudah tampak cukup berubah sejak tujuh tahun lalu dia meninggalkan Negara asalnya. Gedung-gedung mulai tinggi, serta tatanan jalan yang rapi membuatnya kembali rindu sebuah rumah kecil dimana ada Appa, Umma dan juga Noona-nya duduk mengelilingi meja makan ketika musim gugur seperti ini.

Dulu dia selalu ada ketika perayaan Chuseok, dimana seluruh anggota keluarga berkumpul, saling berbagi cerita, kegembiraan serta makanan. Sejak dia berkuliah, sudah jarang sekali pulang, ditambah lagi kepergiannya ke Virginia yang membuat dia hampir-hampir lupa dengan suasana Chuseok di rumahnya sendiri.

Kyuhyun menggeret kopernya saat beberapa rekan yang lain sudah selesai mengurusi keperluan mereka selama di Seoul untuk jangka waktu yang lumayan lama. Mereka meninggalkan Incheon Airport ketika mobil jemputan sudah datang.
.

Kyuhyun membereskan barang-barangnya ketika sudah sampai di kamar sebuah hotel. Setelah merapikan baju kedalam lemari yang sudah tersedia, dia berjalan dan memandang suasana musim gugur yang didominasi oleh warna jingga daun yang hampir meranggas.

Hah! Kyuhyun menghela napas cukup kuat saat semilir angin membelai lembut wajahnya yang tirus, seperti sebuah salam selamat datang‚ÄĒyang entah dari siapa.

Sudah tujuh tahun… dia kembali mengingat seseorang yang tujuh tahun lalu menempati ruang tersendiri dalam hatinya. Seorang laki-laki tampan dengan senyum teduh, sepasang lesung pipi yang dalam, dan tatapan yang hangat.

Harusnya dia tidak mengingat itu lagi, namun perasaan itu hadir dengan tiba-tiba sekarang. Dia menempatkan kenangan manisnya dulu pada sebuah kotak yang mungkin sudah usang dalam ruang hatinya. Setidaknya selama dia hidup, Kyuhyun pernah merasakan bagaimana hangatnya tangan besar yang menggenggam tangannya dimusim semi. Bagaimana seluruh hatinya seperti dikerubungi oleh ribuan kupu-kupu dan mengantarkan getaran geli ketika mengingatknya.

Lelaki bermarga Cho itu tersenyum sendu. Dia tidak seharusnya mengingat pria yang kini menjadi suami orang. Kyuhyun tahu kalau Siwon menikah dengan seorang perempuan bermarga Park, yang ternyata mereka sudah dijodohkan sejak lama. Sekarang Siwon pasti bahagia dengan keluarga barunya, dan mungkin mereka sudah memiliki anak yang lucu‚ÄĒ laki-laki atau perempuan.
.

Jalur Tembok Batu Istana Deoksugung, atau yang juga dikenal sebagai jalan Jeongding-ril adalah jalan sepanjang 900 meter di sisi dinding batu istana Deoksugung yang popular sebagai tempat kencan. Indahnya pemandangan daun gingko kuning atau oranye saat musim gugur membuat suasana terasa semakin romantis.

Dulu, rasa-rasanya Kyuhyun pernah kemari bersama seorang senior di universitas tempatnya belajar. Ah, lagi-lagi Kyuhyun tak sengaja bernostalgia pada kenangan lampau. Kyuhyun mengedarkan pandangannya dan benar saja, teman-teman rekan kerjanya sudah menghilang entah kemana dan dia sendirian di sebuah jalan setapak yang diapit oleh jejeran pohon gingko yang daunnya sudah berwarna kemerahan dan beberapa lembar yang sudah mengering jatuh begitu saja.

‚ÄúHiks‚Ķ hiks‚Ķ‚ÄĚ

Kening Kyuhyun mengkerut mendengar suara isak tangis anak kecil. Dia buru-buru menepis prasangkanya, mana ada hantu disiang hari begini. Lelaki itu mempercepat langkah kakinya dan berjalan menuju Seoul Museum of Art yang letaknya tidak jauh dari Deoksugung. Tapi baru sepuluh langkah, dia justru melihat seorang anak kecil berjongkok dengan wajah yang dibenamkan diantara dua lututnya, berada tepat di bawah pohon gingko yang daunnya masih hijau.

Berakibat rasa penasaran, dia mendekati anak itu dan ikut berjongkok di depannya, ‚ÄúHei, kenapa kau menangis? Dimana orangtuamu?‚ÄĚ

Gadis kecil itu mengangkat wajahnya saat mendengar suara seseorang yang begitu dekat. Matanya merah dan sembab, pipinya yang hampir mirip bakpao itu tampak menggemaskan seperti tupai. ‚ÄúHuwee~! Ahjussi‚Ķ‚ÄĚ

Kyuhyun salah tingkah melihat anak itu semakin kuat menangis dan membuat beberapa pejalan kaki melihat kearahnya dengan raut terkejut ataupun kening yang mengkerut. Dia bahkan gelagapan sampai-sampai membuat gerakan-gerakan abstrak yang dimaksudkan bahwa dia tidak tahu apa-apa atau dia bukan pedhofil mesum yang akan menyakiti anak kecil.

‚ÄúHe-hei‚Ķ apa yang terjadi?!‚ÄĚ Tidak tahu kenapa, dia menjadi gugup sendiri melihat semakin kencangnya anak itu menangis. Namun Kyuhyun bisa bernapas sedikit lega karena beberapa detik kemudian anak itu berhenti dan menyisakan isakan ringan.

‚ÄúSyal pemberian Appa Jihee tersangkut‚Ķ huks‚Ķ‚ÄĚ tangan kanan kecil gadis itu terangkat dan menunjuk keatas, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk menyeka airmatanya sendiri, Kyuhyun mengikuti arah yang ditunjukkan gadis kecil itu lantas tersenyum. Dia berdiri dan agak sedikit berjinjit untuk menggapai sebuah ranting.

‚ÄúIni.‚ÄĚ Kyuhyun segera memberikannya pada gadis kecil itu yang seketika langsung terlihat ceria.

‚ÄúAhjussi, gomapta!‚ÄĚ serunya dengan lantang. Dia melilitkan syal berwarna biru muda itu kelehernya. ‚ÄúUh, hangatnya~‚ÄĚ

Mau tak mau Kyuhyun dibuat gemas sendiri dan rasanya dia ikut tersenyum tidak sadar melihat anak perempuan yang dia perkirakan berusia 5 tahun tertawa sembari mengusap syal pada pipinya.

‚ÄúSiapa namamu?‚ÄĚ

‚ÄúJoneun Choi Jihee imnida, ahjussi.‚ÄĚ

‚ÄúLalu dimana orangtuamu? Bahaya sekali jika anak kecil berlarian sendiri di tempat seperti ini‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúUmma sedang bersama temannya dan Jihee‚Ķ‚ÄĚ anak perempuan itu menunduk, beranggapan bahwa gerak kakinya yang dibalut sepatu berwarna cokelat lebih menarik ketimbang melihat wajah Kyuhyun.

Laki-laki itu menghela, ‚ÄúDan kau bermain sendiri?‚ÄĚ Tebakannya langsung disambut oleh sebuah anggukan. Huft. Sedikit merepotkan karena dia kurang begitu suka dengan anak-anak, tapi tidak apalah. Toh sekarang dia juga sendirian karena teman-temannya lebih antusias memotret pemandangan ketimbang berjalan-jalan bersama Kyuhyun.

‚ÄúAhjussi, ige‚Ķ‚ÄĚ

Kyuhyun merunduk dan melihat gadis bernama Choi Jihee itu mengeluarkan beberapa bungkus permen. ‚ÄúUntukku?‚ÄĚ

Jihee mengangguk dua kali. ‚ÄúAppa selalu memberi Jihee permen kalau Jihee bersikap baik.‚ÄĚ

Kyuhyun mengusap rambut gadis kecil itu dengan gemas dan mengambil satu permen rasa caramel, kemudian mereka berjalan-jalan dengan bergandengan tangan, seolah keduanya sudah lama dekat.

Semillir angin musim gugur yang berhembus di sekitar dua manusia berbeda usia itu menerbangkan daun berwarna merah yang sudah mengering. Tak berapa jauh, ada sesosok yang berdiri di salah satu pohon dengan daun kemerahan, tersenyum lembut saat bibir-bibir dari orang yang dia cintai merekah indah layaknya Cherryblossom di musim semi. Tapi sedetik kemudian dia pergi bersamaan dengan dedaunan cokelat yang lebih dulu jatuh terbawa angin.
.

Kyunghee University‚ÄĒ

‚ÄĒtempat yang seharusnya tidak dia datangi lagi, karena ini sama halnya bahwa Kyuhyun sedang mengumpulkan kembali kenangan-kenangan manisnya bersama seseorang. Tapi apa daya, tubuhnya seolah bergerak sendiri meski otaknya berontak. Dari atap gedung universitas, Kyuhyun melihat kembali bayangan ketika seorang senior menyatakan cinta padanya.

Bibir pink pucatnya sedikit tertarik dan menciptakan seulas senyum tipis saat dia mengangguk dengan raut bingung, yang berarti dia menerima pernyataan cinta seseorang. Itu adalah cinta pertamanya.

Tanpa sadar, Kyuhyun meloloskan airmatanya sendiri.

‚ÄúAku merindukanmu, Siwon-ah‚Ķ‚ÄĚ

Rindu sampai rasanya sesak dan sulit untuk bernapas.
.

Lagi-lagi Kyuhyun bergerak diluar perkiraannya. Dan sekarang dia mendapati dirinya sendiri di depan sebuah pintu rumah seseorang. Ketika ia akan pulang dari universtas, dia bertemu dengan seorang teman. Tanpa basa-basi dia meminta alamat rumah Kim Yerim, karena setidaknya hanya wanita itu yang bisa dia tanya tentang Siwon.

Dan sekarang di sinilah dia, menunggu tuan rumah membuka pintu. Kyuhyun bergerak ringan karena hawa dingin yang berhembus membuatnya cukup bergidik kedinginan meskipun dia sudah menggunakan mantel berwarna cokelat gelap.

Cklek.

Mendengar bunyi pintu terbuka, kembali membuat Kyuhyun antusias. Tapi berbanding terbalik dengan seorang wanita yang terkejut melihat dirinya di depan pintu.

‚ÄúAnnyeong, Kim Yerim-sshi.‚ÄĚ
.
‚ÄúMinumlah.‚ÄĚ Yerim menghidangkan teh dan sepiring kue keatas meja. Dia menduduki kursi kayu di depan Kyuhyun. Matanya kembali menatap sosok yang sudah tujuh tahun tidak dia lihat. Cukup lama, tapi Kyuhyun tidak banyak berubah.

Keheningan membuat bunyi gesek dedaunan pada pohon semakin kentara. Diantara keduanya tidak ada atau tidak tahu, harus memulai pembicaraan ini dari mana. Lama tidak berjumpa membuat kekakuan terasa mencekik. Benar-benar tidak nyaman.

‚ÄúJika kau kemari hanya ingin bertanya tentang Siwon, maka lupakanlah‚Ķ‚ÄĚ

Kyuhyun memandang Yerim, ‚ÄúMaaf. Aku tahu dia sudah menikah‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúKau pergi cukup lama, Kyuhyun-ah‚Ķ‚ÄĚ Yerim membuang arah pandangnya ke samping saat memori tentang seseorang kembali terputar begitu saja.

‚ÄúDia tidak menahanku sama sekali waktu itu. Dia benar-benar membuatku kecewa, tapi‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúSiwon sudah menikah, bisakah kau melepaskannya?‚ÄĚ wanita itu menatap Kyuhyun lagi, ‚ÄúSiwon ingin kau melupakan semua kenangan kalian karena dia tidak punya pilihan lain. Kedua orangtuanya ingin seorang penerus, tak peduli pada cinta yang kalian miliki.‚ÄĚ

Bola mata cokelatnya bergerak gelisah. Tidak bisa menyangkal bahwa sekarang seperti ada sebuah jarum yang menusuk. Kecil tapi sangat menyakitkan. Siwon berjuang untuk cinta mereka, tapi dia justru berjuang untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Sungguh egois.

Yerim kembali menghela, baru saja dia akan beranjak, Kyuhyun sudah menahannya.

‚ÄúAku ingin menemui Siwon.‚ÄĚ

‚ÄúHuh?‚ÄĚ

‚ÄúSetidaknya aku butuh bicara dengannya. Aku tidak ingin kisah kami hanya menjadi omong kosong. Aku tidak akan mengganggu hidupnya, ataupun pernikahannya. Aku hanya ingin mendengar alasan kenapa dia melepasku begitu saja.‚ÄĚ

Yerim memberikan secarik kertas berisi alamat sebuah tempat di kota Seoul yang belum pernah dia datangi.
.

Kyuhyun sampai pada sebuah tempat yang cukup asing bagi Kyuhyun, karena jujur saja, dia baru kali ini datang kesebuah tempat dengan gerbang yang terbuat dari batu pahatan. Belum lagi suasana yang tenang, hanya dengan beberapa orang yang keluar masuk dengan pakaian hitam.

Baru saja Kyuhyun ingin berbalik, namun dia sudah tidak mendapati taksi yang dia gunakan untuk sampai kemari. Dia hanya ingin memastika, apakah dia diantar pada alamat yang benar.

Kaki jenjang Kyuhyun perlahan berjalan memasuki gerbang batu itu, tapi ada sebuah perasaan tidak enak langsung menyergap di dalam dadanya. Jantungnya bergemuruh tanpa sebab, dan dia sulit menelan salivanya sendiri.

Dan perasaan itu membuatnya tercengang ketika dia melihat jejeran batu nisan yang tertancap koko di atas dataran tanah berselimut rumput hijau yang halus.

Tidak.

Ini salah.

Yerim pasti memberikan alamat yang salah karena dia tidak ingin Kyuhyun menemui Siwon.

Tapi kenapa…? kenapa kakinya justru melangkah perlahan, membantah akal sehatnya yang meminta untuk berhenti dan berbalik pergi, menjauh. Menyusuri barisan demi barisan nisam batu dengan nama-nama yang telah tiada, hingga dia sampai pada sebuah nisan yang menuliskan seuntai nama.

Dadanya sesak, Kyuhyun mulai sulit untuk menghirup napasnya, dan perlahan pandangan matanya mulai mengabur hingga tak terasa basah pada pipinya semakin menjadi. Bibir plumnya bergerak gagu, tidak ada seoktaf suarapun yang bisa dia keluarkan.

‚ÄúKau kemari?‚ÄĚ

Sebuah suara menyadarkan Kyuhyun. Dia menghapus kedua pipinya dan berbalik, melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam ikal yang tergerai hingga pinggang. Wanita itu tersenyum dengan membawa sebuket bunga mawar putih. Dia meletakkannya tepat di depan nisan suami tercintanya yang lebih dulu pergi setahun lalu.

‚ÄúPark Haerin, istri Siwon.‚ÄĚ Wanita itu mengulurkan tangannya pada Kyuhyun dengan seulas senyum manis.

Sedesir angin seperti menghentikan waktu milik Kyuhyun.

Tidak ada tanggapan dari lawan di depannya, wanita bernama Park Haerin itu menurunkan tangannya, namun tidak menghilangkan senyuman manisnya. ‚ÄúDia pergi setahun yang lalu‚Ķ Dia pria yang baik, selalu memperlakukanku dengan lembut, meski dia tidak benar-benar mencintaiku.‚ÄĚ

Tatapan Haerin tampak menerawang kemasa dimana dia menikah dulu bersama seorang pria yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya, Choi Siwon. Seorang pria ramah yang penyayang.

‚ÄúAh, mungkin kau penasaran bagaimana aku bisa mengenalmu?‚ÄĚ Haerin berusaha untuk tidak memburamkan suasana pemakaman. Dia berbicara dengan nada yang hangat. ‚ÄúAku menanyakan banyak hal tentangmu pada Yerim, dan jujur saja‚Ķ‚ÄĚ dia menatap lurus lelaki di depannya, ‚ÄúAku begitu iri denganmu. Siwon sangat mencintaimu. Dia mempertahankan sebagian hatinya hanya untuk cinta kalian. Sampai-sampai, cincin pernikahan milikkupun terlalu besar dijemariku.‚ÄĚ

‚ÄúA-aku‚Ķ‚ÄĚ Kyuhyun tergagap. Entahlah, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan kejadian tiba-tiba ini. Sejak awal dia memang tidak siap jika harus bertemu dengan istri Siwon.

‚ÄúAwalnya aku terus menangis di hadapan Yerim karena sekuat apapun usahaku, hanya ada kau di matanya.‚ÄĚ Haerin berbalik membelakangi Kyuhyun, mengaitkan kedua tangannya di belakang punggungnya dan menghirup udara sebisanya. Angin yang ketika itu berhembus perlahan memainkan surai hitamnya yang hanya berhias jepit rambut berbentuk bunga Cherryblossom.

Sedangkan Kyuhyun hanya bisa menatap punggung kecil wanita di depannya dengan rasa bersalah. Wanita itu lantas menundukkan kepalanya, dan Kyuhyun tidak bisa menebak seperti apa raut beserta hati wanita itu.

‚ÄúTapi setelah aku melahirkan seorang bayi perempuan, aku mulai sadar bahwa Siwon menyukaiku meski tidak utuh, dan aku bersyukur akan hal itu. ‚ÄėTidak apa-apa‚Äô, begitu pikirku selama ini. Siwon sangat mencintai putri kami. Dia selalu pulang tepat waktu untuk bergantian mengurusnya. Atau ketika libur, dia akan mengosongkan jadwal kantornya hanya untuk berkumpul ataupun menghabiskan waktu seharian.‚ÄĚ

Tampak Haerin menyeka pipinya sembari menunduk, ‚ÄúHingga aku tahu, selama ini Siwon mengidap gagal jantung. Sepanjang masa kritisnya, dia hanya mengucap maaf dan sesekali memanggil namamu.‚ÄĚ

Haerin berbalik, dan itu semakin membuat Kyuhyun tampak buruk. Wanita di depannya sungguh luar biasa. Rela mambagi cinta untuk seseorang seperti Kyuhyun. Haerin berusaha untuk tidak menangis meski gagal karena airmata terus menggenang dan mengaburkan pandangannya.

‚ÄúDia tidak bisa melupakanmu hingga akhir hayatnya, Kyuhyun-sshi.‚ÄĚ
.

‚ÄúYerim-imo?‚ÄĚ gadis kecil dalam gendongan seseorang mulai mengulet karena merasa tidurnya terusik suara angin. Padahal tadi dia sedang tidur dengan nyenyak di rumah bibinya karena sang ibu ada sedikit urusan.

‚ÄúKau sudah bangun?‚ÄĚ

‚ÄúHung? Appa?‚ÄĚ gadis kecil itu mengucek kedua matanya sambil berdengung, lalu melingkarkan kedua tangan mungilnya, melingkari leher kokoh milik sang ayah yang selama ini dia sayangi.

‚ÄúAppa mengganggumu?‚ÄĚ

‚ÄúAniyo.‚ÄĚ Gadis itu tersenyum dan mengecup pipi ayahnya.

Sang ayah balas mengecup hidung bangir putrinya dan mengelus rambut ikal sang anak. Kaki-kaki jenjangnya terus berjalan menyusuri jalan setapak dan sampai pada sebuah halaman dengan rerumputan hijau, si ayah menurunkan putrinya dan bersimpuh.

‚ÄúMianhae, Appa tidak selalu ada untukmu dan menemanimu bermain‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúGwenchanayo, Appa‚Ķ Umma bilang, Appa sedang beristirahat, jadi tidak boleh nakal‚Ķ hehehe‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúAppa sangat mencintaimu dan juga Umma, cinta untuk kalian berdua adalah hal terindah yang pernah Appa miliki. Jaga cinta Appa, arrachi?‚ÄĚ

Si gadis kecil mengangguk beberapa kali, sebelum akhirnya berbalik dan berlari menghampiri ibunya.
.
‚ÄúUmmaaa~!‚ÄĚ

Hup.

Sang ibu menangkap tubuh anaknya yang tiba-tiba berlari dan menubruk tubuhnya. Dia langsung menggendong tubuh kecil putrinya serta menghujani wajah menggemaskan bak tupai itu dengan ciuman-ciuman yang membuat si anak terkekeh geli.

Haerin menurunkan tubuh putri kecilnya lalu memandang Kyuhyun dengan hangat, ‚ÄúJihee-ya, ayo sapa Ahjussi‚Ķ‚ÄĚ

Gadis kecil itu berbalik kemudian matanya membesar melihat lelaki tinggi di depannya, memandang Kyuhyun dengan mata bulatnya. ‚ÄúAhjussi?‚ÄĚ

Kyuhyun tergagap. Gadis kecil itu… gadis yang dia ambilkan syalnya beberapa hari yang lalu… putri Siwonkah?

Dia berjalan dengan perlahan, setelah sampai beberapa jarak, dia menjatuhkan tubuhnya kemudian… grep! Memeluk erat tubuh kecil itu. Dan tangisnya seketika pecah.

‚ÄúSiwonnie‚Ķ hiks‚Ķ‚ÄĚ

Haerin kembali tersenyum melihat kedua orang itu saling memeluk. Tidak dipungkiri kalau wajah Jihee lebih mirip suaminya, dengan bibir tipis dan lesung pipi yang dalam. Dia mengangkat wajahnya dan melihat sosok suaminya tengah berdiri di seberang sana.

Pria itu tersenyum sangat manis. Senyum yang membuat Haerin jatuh cinta berkali-kali. Dia membungkukkan tubuhnya sembari mengucap terima kasih, karena pada akhirnya dia bisa melepas beban yang selama ini terus menghalangi dia untuk bisa beristirahat dengan tenang.

‚ÄúTerima kasih, Haerin-ah‚Ķ Aku mencintaimu‚Ķ‚ÄĚ

‚ÄúAku juga mencintaimu, Siwonnie‚Ķ Tidurlah, kami akan bahagia untukmu‚Ķ‚ÄĚ
.

.
Kyuhyun membuka matanya dan menghela sejenak. Suasana di Myeongdong Chatedral membuatnya benar-benar nyaman sampai dia lupa sekarang sudah hampir siang.

‚ÄúKyunnie ahjussi‚Ķ‚ÄĚ seorang gadis kecil menggenakan dress berwarna merah muda membuatnya tampak lucu. Gadis itu menghampiri Kyuhyun dan duduk di sebelahnya.

‚ÄúApa Umma sudah datang?‚ÄĚ

Jihee mengangguk, ‚ÄúLee Songsaengnim juga.‚ÄĚ

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. Mereka berdua keluar dari chatedral. Jihee langsung menghampiri ibunya yang sedang bersama seorang pria tampan‚ÄĒguru dari Jihee. Kyuhyun tersenyum melihat pemandangan di depannya.

Musim semi.

Bruk.

‚ÄúAh,‚ÄĚ

Orang asing itu menundukkan tubuhnya beberapa kali karena sudah menabrak bahu Kyuhyun.

‚ÄúShiyuan-ge!‚ÄĚ Tak jauh dari keduanya berdiri, seorang gadis merentangkan kedua tangannya, melambai-lambai agar sang kakak menghampirinya dan tidak tertinggal oleh barisan tur.

‚ÄúSorry.‚ÄĚ

Deg.

Semilir angin musim semi menerbangkan kelopak Cherryblossom yang rapuh, mengajaknya berdansa mengelilingi Kyuhyun yang membatu.

Tak terasa mata Kyuhyun mulai berair, tapi buru-buru Kyuhyun tersenyum. Dia tidak boleh menangis lagi. Dia sudah berjanji akan bahagia demi Siwon. Tubuhnya berbalik menghampiri Jihee, Haerin dan seorang pria bermarga Lee yang sebentar lagi akan menikahi Haerin. Pria itu-Lee Donghae‚ÄĒ seorang guru yang mengajar di sekolah Jihee, sudah melamar ibunya dua minggu yang lalu ketika awal musim semi. Rencana hari ini mereka akan menghabiskan waktu berjalan-jalan menikmati keindahan Cherryblossom di jalanan Myeongdong.

Kyuhyun menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dia belajar bersyukur sejak mengenal Siwon. Belajar untuk menerima yang diberikan meski tidak sesuai harapan. Dan mengikhlaskan yang berharga untuk pergi, karena Kyuhyun tahu, sesuatu yang hilang akan selalu memiliki pengganti.

Ketika Seoul kembali menerbangkan tiap-tiap kelopak merah muda ibarat airmata, ia mengantarkan sebuah tinta untuk kisah yang baru.

Bukankah hidup ini indah ketika kau mampu untuk ikhlas pada sesuatu yang sesungguhnya bukan milikmu? Karena Tuhan lebih tahu, mana yang terbaik untukmu…
.
Fin~
.

.

a/n: Annyeong ^^

Maaf kalau saya jarang menyapa kalian, karena waktu dan keadaan yang sulit, hehe. Tapi terima kasih yang sudah hadir dan meninggalkan kesannya ketika membaca FF saya ini ūüôā

 

Suha Camui. 3:40 AM